Connect with us

Hukum

Fayakhun Ngaku ‘Main’ di Proyek Bakamla untuk Biaya Kegiatan Politik

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Bekas Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi mengaku ‘kecebur’ dalam proyek satelit monitoring dan drone di Badan Keamanan Laut (Bakamla), lantaran untuk pembiayaan politik.

Namun, pihak yang dibantunya dalam hal ini Managing Director PT Rohde and Schwarz Indonesia, Erwin Syaaf Arief tidak pernah memberikan uang. Akhirnya Ketua DPD Golkar Ibukota itu menagihnya.

Hal itu diungkapkannya saat bersaksi dalam sidang yang digelar Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (22/8/2019).

“Seingat saya, saya memang menanyakan. Begini, saya pernah diberitahu akan didukung kegiatan politik saya, otomatis saya di dalam kegiatan politik saya sudah mempunyai rencana-rencana,” kata Fayakhun.

Diantara rencana tersebut adalah mengundang tamu untuk datang dan mengganti ongkos tiket pesawat dan akomodasi para tamu undangan.

“Itu saya rencanakan. Ketika kemudian saudara terdakwa yang sudah menjanjikan membantu kemudian bantuan tak kunjung datang tentu saya akan menanyakan,” ujar Fayakhun.

Padahal Erwin lah yang mendekati Fayakhun untuk mendapatkan proyek yang dibiayai APBN-Perubahan 2016 tersebut. Kata Fayakhun, ia dihampiri oleh Erwin usai menggelar rapat dengar pendapat dengan Bakamla.

“Saya ketemu terdakwa dan saudara terdakwa menyampaikan ada peluang Bakamla membeli peralatan dari perusahaan saudara terdakwa. Ya saya senang namanya teman baik, gitu, cerita ada opportunity tentu seneng,” kata Fayakhun.

Fayakhun juga menyebutkan, Erwin meminta agar Komisi I DPR RI dapat mendukung pengadaan tersebut. “Saudara terdakwa menyampaikan supaya Komisi I mendukunglah bahasanya,” katanya.

Kemudian, lanjut Fayakhun, ia dikenalkan Erwin dengan Direktur Utama PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah. Erwin menyampaikan, Bakamla akan membeli peralatan satelit monitoring dan drone ke Rohde and Schwarz Indonesia lewat perusahaan Fahmi Darmawansyah.

Fahmi pun meminta kepada Fayakhun agar membantu agar anggaran untuk proyek tersebut bisa gol. “Dia mengatakan tolong dibantu ya, Kun (Fayakhun). Saya menangkap itu maksudnya terkait itu (proyek),” katanya.

Erwin sendiri didakwa bersama-sama Direktur Utama PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah menyuap Fayakhun Andriadi selaku anggota Komisi I DPR sebesar USD 911.480 secara bertahap.

Agar Fayakhun mengupayakan penambahan anggaran Bakamla untuk pengadaan proyek satelit monitoring dan drone dalam APBN Perubahan tahun 2016. [riz/ipg]

Hukum

Kata Polisi, Millen Cyrus Akan Direhab

Published

on

Continue Reading

Hukum

Polisi Sebut Syahganda dan Jumhur Segera Disidang

Published

on

Continue Reading

Daerah

Jangan Pilih Mantan Napi Korupsi di Pilkada

Published

on

ilustrasi/net
Continue Reading
Loading...