Connect with us

Ekonomi

Milenial Terancam Menua Sebelum Sejahtera

Published

on

Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiatif Arya Sandhiyudha (Foto: Realitarakyat.com/Franc L))

Jakarta, Realitarakyat.com – Perekonomian Indonesia diprediksi akan memasuki masa-masa sulit. Karena tidak hanya ‘winter is coming’ tetapi ‘storm is coming.’ Baik yang disebabkan oleh faktor eksternal maupun internal.

“Jika pemerintah tidak tepat dan cermat dalam mengantisipasi kondisi ekonomi, maka tidak tertutup kemungkinan Indonesia akan masuk dalam masa-masa sulit resesi ekonomi,” kata Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiatif (TIDI), Arya Sandhiyudha, kepada realitarakyat.com di Jakarta, Jumat (27/9).

Lebih lanjut doktor ilmu politik dan hubungan internasional itu mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi 5 persen yang sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir, dikhawatirkan akan membuat Indonesia masuk dalam perangkap Middle Income Trap. Kondisi itu akan semakin berat, mengingat puncak bonus demografi Indonesia akan berakhir sekitar tahun 2036-2037.

“Artinya, jika dalam 16-17 tahun ke depan perekonomian Indonesia tidak mengalami perubahan, maka negara akan menanggung beban ekonomi yang semakin berat. Generasi muda hari ini akan semakin menua, sebelum mereka menjadi sejahtera,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mengaku khawatir trend pelambatan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir, semakin memperkuat terjadinya resesi ekonomi global. Dimana terjadinya Trade War antara China dan AS, berdampak terhadap pelemahan permintaan terhadap barang-barang komoditas.

“Melemahnya ekonomi China yang hanya tumbuh 6,2 persen dalam periode April-Juni (kuartal II), terendah dalam 30 tahun terakhir. Kondisi ini diprediksi akan merembet ke Indonesia,” tandasnya.

Dia juga melihat, pasca pengeboman kilang minyak utama Aramco Arab Saudi, kondisi geopolitik Timur Tengah semakin memanas. Saudi berencana memangkas produksinya, sehingga diperkirakan dampaknya terhadap harga minyak internasional akan membumbung tinggi.

“Meningkatnya harga minyak Internasional akan berdampak terhadap belanja subsidi energy, khususnya harga BBM. Perlambatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai terasa,” tegasnya.

Indikatornya, penerimaan negara hingga akhir Agustus lalu masih terlihat lesu. Data dari Kementerian Keuangan mencatat, penerimaan negara hanya mencapai Rp 1.189,3 triliun atau tumbuh 3,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Potensi terjadinya shortfall penerimaan pajak akan mencapai Rp 140,03 triliun. Sehingga, target Tax Ratio tahun 2019 sebesar 11,2 persen tidak akan tercapai. Konsekuensinya defisit akan lebih besar dari 1,93% PDB (outlook 2019),” paparnya.

“Total utang pemerintah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tercatat, utang pemerintah per Juli 2019 sebesar US$ 395,3 miliar atau setara Rp 5.534 triliun dengan kurs Rp 14.000 per dollar. Bila dibandingkan Juli 2018, tercatat mengalami kenaikan Rp 346,28 triliun,” imbuhnya.

Sedangkan jika dibandingkan bulan sebelumnya, mengalami kenaikan Rp 33,45 triliun dari posisi Rp 4.570,17 triliun. Rasio utang terhadap PDB sudah mencapai angka 36,2 persen. “Dan ini sudah menjadi ambang batas psikologis utang negara,” tukasnya.[sas]

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Menkop dan Menparekraf Optimalkan Kolaborasi di 5 Destinasi Super Prioritas

Published

on

(ist/net)
Continue Reading

Ekonomi

Erick Thohir Angkat Wakapolri Gatot Eddy Jadi Wakil Komut PT Pindad

Published

on

Continue Reading

Ekonomi

Tercanggih di Asia Tenggara, Pusat Kendali Operasi Kereta Resmi Beroperasi

Published

on

(ist/net)
Continue Reading
Loading...