Connect with us

Daerah

Penggunaan Bahasa Tergerus Istilah Tak Baku

Published

on

Puluhan peserta yang mengikuti Penyuluhan Penggunaan Bahasa Badan Publik dan Media Luar Ruang di Rembang. (Foto: Realitarakat.com/aw)

Realitarakyat.com – Penggunaan Bahasa Indonesia kadangkala belum digunakan secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan pencampuran Bahasa Indonesia dan bahasa asing.

“Hal inipun terjadi dalam berbagai kegiatan kedinasan. Padahal, penguasaan bahasa yang baik dan benar penting dilakukan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Subakti saat membuka kegiatan Penyuluhan Penggunaan Bahasa Badan Publik dan Media Luar Ruang di Rembang, Kamis (3/10).

Acara tersebut digelar Pemkab Rembang bekerjasama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, dalam upaya mengevaluasi dan memperbaiki penggunaan tata bahasa yang sesuai aturan. Puluhan peserta mengikuti penyuluhan tersebut. Antara lain instansi, media radio, percetakan, rumah makan dan pelaku usaha perhotelan.

Menurut Subakti, penggunaan tata bahasa yang sesuai aturan, sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta lagu Kebangsaan. Dikatakan, dengan penguasaan bahasa yang baik, orang akan lebih mudah berkomunikasi.

“Terlebih saat digunakan untuk berkoordinasi. Saat ini, aspek penggunaan bahasa agak tergerus karena ada istilah-istilah yang tidak baku dan tidak sesuai kaidah penggunaan bahasa yang baik dan benar,” tandasnya.

Namun sayangnya, hal itu tetap disampaikan di ruang publik. Karena itu, lanjutnya, peran media sangat vital untuk membumikan jati diri bangsa. Yakni agar tetap eksis dan dihormati.

 

Penting

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Tirto Suwondo mengungkapkan, saat ini bahasa tidak pernah dianggap menjadi sesuatu yang sangat pokok atau menjadi yang sangat penting. Padahal, bahasa juga diatur dalam berbagai pedoman dan acuan yang disusun oleh pemerintah.

“Namun dalam keseharian, penggunaan bahasa di dalam pemerintahan masih ada yang kurang tepat dengan kaidah penggunaan bahasa yang baik dan benar. Beberapa contoh penggunaan bahasa asing juga digunakan dalam kegiatan formal,” tuturnya.

Misalnya workshop, yang dalam Bahasa Indonesia adalah lokakarya. Atau, peluncuran, yang lebih sering diganti dengan kata launching. Karena itu, Tirto khawatir bila bahasa Indonesia sudah digantikan dengan bahasa asing.

“Terlebih, ada kecenderungan anak-anak muda menggunakan bahasa asing. Jika itu terjadi, apakah identitas kita masih ada? Kalau bahasa Indonesia sudah digantikan bahasa Inggris misalnya, apakah masih bisa diketahui bahwa kita adalah warga Indonesia,” ucapnya balik bertanya.

Hal itu menurutnya menjadi renungan tersendiri. Apalagi, bahasa adalah salah satu simbol negara yang harus dihormati, selain bendera, lambang negara, serta lagu kebangsaan.

Dengan penyuluhan bahasa, kata dia diharapkan kecintaan masyarakat nusantara terhadap Bahasa Indonesia tidak memudar. Salah satunya, dengan mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia dibandingkan bahasa asing.

“Sehingga, dapat mendukung pemerintah untuk meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional.[aw/sas]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Kejati Kembali Lirik Kredit Macet Bank NTT Rp. 17 Miliar

Published

on

Continue Reading

Daerah

Jangan Pilih Mantan Napi Korupsi di Pilkada

Published

on

ilustrasi/net
Continue Reading

Daerah

Kasus Bank NTT Cabang Surabaya, Jaksa Selamatkan Uang Negara Rp. 128 miliar

Published

on

Continue Reading
Loading...