Kelompok Radikal Gunakan Agama Sebagai Daya Tarik   - Realita Rakyat
Connect with us

Nasional

Kelompok Radikal Gunakan Agama Sebagai Daya Tarik  

Published

on

Pengamat intelejen Stanislaus Riyanta. (Foto: Ist/Net)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Kementerian Agama harus melakukan sejumlah hal untuk menanggulangi radikalisme. Karena, banyak kelompok radikal yang mengatasnamakan agama.

“Kelompok radikal sering dengan sengaja menggunakan agama sebagai daya tarik. Padahal, aksi kekerasan atau terorisme tidak selalu bermotif ideologi atau agama. Karena, ada juga yang bermotif separatisme atau bahkan bermotif ekonomi,” kata pengamat intelejen Stanislaus Riyanta, Minggu (13/10).

Dia menambahkan, yang dilakukan oleh sekelompok orang di Wamena, Papua, sudah termasuk sebagai aksi teror. Sebab, definisi teror adalah melakukan tindakan kekerasan untuk mewujudkan keinginan dan menakuti masyarakat.

“Ketika seseorang sudah menakuti masyarakat dengan menggunakan kekerasan supaya tujuannya tercapai, maka sudah dapat dikategorikan sebagai teror. Motifnya bisa bermacam-macam. Antara lain agar ideologi yang diusungnya tercapai dan kalau di Papua, motifnya adalah separatisme,” tegasnya.

Oleh karena itu, dia tidak setuju bila ada yang menggeneralisir bahwa teroris dianut oleh pemeluk agama tertentu. Karena, hal itu akan berdampak pada penanganan yang salah.

“Rehabilitasi harus dilakukan kepada pelaku teror yang terbukti melakukan pelanggaran hukum. Sehingga, saat keluar dari penjara sudah klir dan tidak lagi menjadi virus yang berbahaya,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) pernah menyatakan, sebanyak 20 persen pelaku teror yang sudah menjalani hukuman, kembali melakukan aksinya.

“Bahkan, ada juga pelaku yang saat dipenjara justru menyebarkan pahamnya kepada narapidana lain. Hal itu jelas sesuatu yang sangat berbahaya, sehingga deradikalisasi menjadi penting,” ucapnya.

Masalahnya, imbuh dia, pelaku teror tidak mau bila deradikalisasi dilakukan oleh pemerintah. Karena, mereka menganggap pemerintah adalah thogut yang harus mereka perangi.

“Sehingga, apapun yang dikatakan oleh pemerintah, sudah tidak mau mereka ikuti. Menurutnya, deradikalisasi yang paling efektif adalah dilakukan oleh orang terdekatnya seperti keluarganya,” tukas Stanislaus.[sas]

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Menko PMK Muhadjir Effendy Usul Harga Rapid Test Maksimal Rp75.000

Published

on

Continue Reading

Headline

Dalam Sehari Positif Covid-19 Bertambah 2.657 Kasus, Jokowi Sebut Ini Sudah Lampu Merah

Published

on

Continue Reading

Headline

Wapres Ma’ruf Amin Yakin Ekonomi RI Pulih dari Corona di Tahun 2022

Published

on

Continue Reading
Loading...