Connect with us

Opini

Posisi Wamen Bisa Obati Kekecewaan 266 Calon Menteri Gagal

Published

on

Said Salahuddin / Ist

PRESIDEN punya banyak cara untuk mengobati kekecewaan dari 266 anggota parpol, relawan, serta ormas pendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf yang urung diangkat menjadi menteri. Salah satunya, Presiden bisa mengangkat mereka menjadi wakil menteri.

Kejujuran Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengungkap fakta bahwa ada 300 nama yang diajukan sebagai calon menteri oleh partai politik, relawan, serta ormas pendukungnya merupakan sebuah kabar yang berharga.

Berbasis pada testimoni Presiden itu publik kini mendapatkan konfirmasi bahwa jargon “dukungan tanpa syarat” yang sering didengungkan elit parpol, relawan, serta ormas pendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf di Pilpres lalu hanyalah omong kosong belaka.

Sebab, kalau dukungan politik yang pernah mereka berikan itu murni tanpa syarat, mengapa harus aktif mengajukan 300 nama calon menteri kepada Presiden? Mestinya kan mereka pasif saja. Kalau Presiden minta, baru mengajukan nama. Logikanya begitu.

Jadi, pengakuan Presiden di acara Musyawarah Besar X Pemuda Pancasila kemarin (26/10/2019) itu sebetulnya secara tidak langsung telah membuka kedok politik dari para pemburu jabatan. Ibarat ‘kotak pandora’ dalam mitologi Yunani, perilaku dari sebagaian elit itu kini telah tersingkap dengan jelas.

Tetapi, terlepas praktik politik yang semacam itu dinilai kurang etis oleh sebagian masyarakat, saya sendiri berpandangan bahwa hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan politik. Adalah wajar jika para pendukung capres-cawapres yang menang Pemilu meminta jatah menteri kepada Presiden terpilih. Natur politik memang demikian.

Hanya saja, yang saya tidak suka sejak dulu itu kan mereka selalu berbohong kepada publik dengan mengatakan memberi dukungan tanpa syarat, tetapi diam-diam justru aktif meminta jatah menteri kepada Presiden. Disini tidak fairnya.

Nah, kalau kemudian dari 300 nama yang disodorkan itu ternyata ada 266 orang yang kecewa karena tidak kebagian jatah menteri, bagaimana seharusnya parpol, relawan, dan ormas pendukung Jokowi-Ma’ruf menyikapi hal tersebut? Idealnya tentu saja mereka harus legawa. Itulah konsekuensi dari dukungan tanpa syarat.

Tetapi kalau mereka tetap mengharapkan jabatan, Presiden sebetulnya punya banyak cara untuk mengobati rasa kecewa para pendukungnya. Salah satunya adalah dengan memberikan jatah kursi wakil menteri (wamen).

Mengingat tidak ada peraturan perundang-undangan yang membatasi jumlah wamen, maka sepanjang Presiden siap menerima kritik dari masyarakat jabatan wakil menteri bisa saja kembali dibentuk bahkan di seluruh kementerian.

Presiden bisa berdalih bahwa 34 kementerian yang ada dalam kabinetnya dinilai memiliki “beban kerja yang membutuhkan penanganan secara khusus”. Presiden berwenang membuat penilaian itu dan hanya itulah satu-satunya syarat pengangkatan wamen yang ditentukan dalam Undang-Undang Kementerian Negara.

Untuk menghindari tudingan sedang mengobral jabatan sebagai hadiah politik Presiden bisa berkamuflase dengan membuat ‘job analysis’ dan ‘job spesification’ posisi wamen menggunakan ilmu ‘cocoklogi’. Pokoknya gimana caranya 266 orang pendukung yang merasa kecewa itu seolah-olah cocok menduduki posisi wakil menteri di semua kementerian.

Jadi, sekarang terserah pada Presiden: mau mengobati rasa kecewa para pendukungnya atau tidak? Kalau mau, celahnya ada. Saya tentu tidak dalam posisi membenarkan apalagi menganjurkan, tetapi sekedar ingin mengatakan bahwa disitu ada jalan. [***]

*Pemulis adalah Pemerhati politik dan Kenegaraan; Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma); Konsultan senior political and constitutional law consulting (Postulat)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MPR

Catatan Ketua MPR RI, Kuartal IV-2020 yang Sarat Tantangan

Published

on

Continue Reading

Opini

Kuartal IV-2020 yang Sarat Tantangan

Published

on

Continue Reading

Headline

Kotak Kosong Bukan Kesalahan Rakyat tapi Kesalahan Parpol Yang gagal!

Published

on

Continue Reading
Loading...