Fadli Kritik Orang-orang Jokowi Yang Tak Bisa Pecahkan Kebekuan Ekonomi - Realita Rakyat
Connect with us

Ekonomi

Fadli Kritik Orang-orang Jokowi Yang Tak Bisa Pecahkan Kebekuan Ekonomi

Published

on

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon / Net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Seharusnya Presiden RI Joko Widodo di periode kedua pemerintahan dapat memilih orang-orang baru yang mumpuni, dan bisa memecah kebekuan ekonomi sebagai suatu tim kerja yang baik.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon dalam keterangan kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Akan tetapi, kata Fadli, kenyataannya justru hal tersebut tidak terjadi, tim ekonomi pemerintah relatif tidak berganti.

“Orangnya masih itu-itu saja, dan kebijakan mereka juga tetap itu-itu saja. Tak heran, kita misalnya tidak melihat adanya terobosan Pemerintah dalam menghadang laju deindustrialisasi,” kata Fadli, yang menambahkan jika itu adalah sektor yang bisa menyerap banyak angkatan kerja.

Deindustrialisasi adalah kondisi di mana kontribusi industri manufaktur mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Sehingga, jika negara mengalami deindustrialisasi, itu artinya situasi buruk bagi pemerintah suatu negara.

“Sebab, biasanya deindustrialisasi diikuti dengan melonjaknya pengangguran yang dipicu oleh adanya PHK. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), pada 2014 kontribusi sektor manufaktur masih 21,07 persen,” kata dia.

Sementara pada Tahun 2015, angkanya turun menjadi 20,99 persen. Pada 2016 dan 2017 angkanya masing-masing turun menjadi 20,51 persen dan 20,16 persen. Dan puncaknya adalah pada 2018 lalu, dimana kontribusi sektor manufaktur hanya 19,86 persen.

“Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB juga terus turun, yaitu dari 21,07 persen pada 2014, berturut-turut menjadi 20,99 persen (2015), 20,51 persen (2016), 20,16 persen (2017) dan 19,86 persen (2018). Gejala deindustrialisasi bukan hanya bisa kita lihat dari angka-angka makro, tapi juga dari perkembangan sehari-hari,” ujar Alumnus London School of Economics (LSE) Inggris itu.

Bahkan, Fadli mengungkapkan, diakhir Agustus lalu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat melaporkan per Juli 2019, jumlah karyawan pabrik tekstil yang dirumahkan mencapai 36 ribu pekerja. Angka ini merupakan kumulasi dari 2017 hingga 2019. Jumlah itupun baru berasal dari angka sampling beberapa perusahaan. Yang artinya, kata Fadli, jumlah sebenarnya di lapangan pasti lebih besar dari itu.

Kolapsnya industri tekstil di tanah air salah satunya disebabkan efek perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina. “Pasalnya, sesudah Amerika mempersulit impor tekstil asal Cina, negeri Tirai Bambu tersebut kemudian mencari pasar ke kawasan lain. Indonesia, yang berpenduduk 260 juta jiwa, jelas adalah target empuk.”

“Gejala deindustrialisasi ini sangat ironis, mengingat Indonesia sebenarnya belum pernah mencapai puncak industrialisasi. Itu sebabnya, gejala deindustrialisasi yang kita alami saat ini disebut sebagai deindustrialisasi dini, atau deindustrialisasi prematur,” kata dia. [ipg]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Menkeu : Penerimaan Perpajakan Minus 9,4 Persen Semester I 2020

Published

on

Continue Reading

Ekonomi

Jokowi Minta BKPM Siapkan Tanah Murah untuk Kawasan Industri

Published

on

Continue Reading

Ekonomi

Erick Thohir Proyeksi Dunia Usaha Hanya Mampu Pulih 60 Persen

Published

on

Continue Reading
Loading...