Kajati NTT Bungkam Dengar Nama Frans Lebu Raya - Realita Rakyat
Connect with us

Hukum

Kajati NTT Bungkam Dengar Nama Frans Lebu Raya

Published

on

Kajati NTT Pathor Rahman / Net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Kasus pembangunan gedung pameran NTT Fair tahun 2018 senilai Rp 29, 9 miliar masih menjadi buah bibir masyarakat NTT.

Pasalnya, nama Mantan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya yang disebut-sebut dalam persidangan menerima fee proyek NTT Fair masih menghirup udara bebas.

Bukan saja mantan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, hal yang sama juga dialami oleh Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Benediktus Polomaing yang mengakui menerima uang senilai Rp 100 juta namun masih juga menghirup udara segar.

Dalam kasus ini, tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejati NTT hanya berani menetapkan Hadmen Puri (Dirut CV. Eka Puri), Linda Luidianto, Fery Jhon Pandie, Yuli Afra (Kadis PRKP NTT) dan Fabiola Dona Tho (PPK) sebagai tersangka.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Pathor Rahman yang dikonfirmasi berulang-ulang melalui telepon selalu bungkam dan tidak pernah merespon pertanyaan wartawan realitarakyat.com.

Hal yang sama juga terjadi pada Asisten Tindak Pidana Khusus (As Pidsus) Kejati NTT, Sugyanta seolah-olah mendengar nama Frans Lebu Raya terdiam tanpa kata.

Asisten Tindak Pidana Khusus (As Pidsus) Kejati NTT, Sugyanta yang dihubungi wartawan juga tidak pernah merespon pertanyaan wartawan.

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati NTT, Sugyanta mungkin karena menolak untuk dikonfirmasi akhirnya menonaktifkan nomor hand phone miliknya.

Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT, Abdul Hakim yang dikonfirmasi sebekumnya menegaskan bahwa kasus dugaan korupsi pembangunan gedung pameran NTT fair Tahun 2018 senilai Rp29 miliar, berpeluang melahirkan tersangka baru.

Sejauh ini, tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, baru menetapkan 6 orang tersangka, yakni, Linda Liudianto, Dona Toh, Hadmen Puri, Barter Yusuf, Yuli Afra dan Jerry Pandie.

Dijelaskan Abdul, dalam kasus tersebut, negara mengalami hingga Rp12,7 miliar berdasarkan hasil perhitungan ahli dari BPKP perwakilan NTT.

“Berdasarkan hasil perhitungan ahli dari BPKP perwakilan NTT, negara mengalami kerugian hingga Rp12,7 miliar,” ungkap Abdul.

Awalnya, kata dia, berdasarkan perhitungan sendiri oleh tim penyidik Tipidsus Kejati NTT, negara mengalami kerugian hanya Rp6 miliar, namun ketika dihitung oleh BPKP, jumlahnya menjadi Rp12,7 miliar.

Ditegaskan Abdul, dalam kasus dugaan korupsi tersebut, yang paling bertangung jawab atas kerugian negara adalah Linda Liudianto, Yuli Afra dan konsultan pengawas proyek NTT Fair.

“Yang paling besar tanggung jawabnya dalam kerugian negara atas perkara itu, adalah Yuli Afra, Konsultan pengawas dan Linda Liudianto,” katanya.

Ditambahkan Abdul, penambahan tersangka baru dalam kasus tersebut jika dalam sidang perkara tersebut terungkap oknum lain yang terlibat dalam pekerjaan proyek tersebut.

“Jika dalam sidang ada terungkap bahwa ada orang lain yang turut nikmati dana proyek, maka akan ditindaklanjuti berdasarkan fakta persidangan,” ujarnya.[prs]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Usai Geledah 3 Lokasi di Kota Banjar, KPK Sita Sejumlah Uang dan Dokumen

Published

on

Continue Reading

Hukum

Mahkamah Agung Perintahkan Bank BJB Bayar Pajak Rp61,852 Miliar

Published

on

Continue Reading

Hukum

KPK nilai Perpres Kartu Prakerja sudah Muat Rekomendasinya

Published

on

Continue Reading
Loading...