Connect with us

Hukum

Pengibar Bendera Kejora Didakwa Makar

Published

on

Realitarakyat.com – Enam aktivis Papua yakni Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Anes Tabuni dan Arina Elopere didakwa melakukan perbuatan makar.

Pada dakwaan pertama mereka dijerat dengan pasal 106 KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP atau mengenai makar.

“Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya, sebagai orang yang melakukan atau turut serta melakukan perbuatan yaitu makar, dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian wilayah negara dari yang lain,” kata jaksa penuntut umum (JPU) saat membacakan surat dakwaan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl Bungur Raya, Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Dakwaan makar ini terkait pertemuan Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Anes Tabuni dan Arina Elopere dengan beberapa koordinator wilayah persatuan mahasiswa dan pemuda Papua di Jakarta.

Dalam pertemuan itu, mereka bersepakat menggelar unjuk rasa di depan Mabes TNI AD dan Istana Negara untuk merespon insiden rasisme di Surabaya terhadap masyarakat Papua.

“Para terdakwa bersepakat akan mengadakan unjuk rasa pada hari Kamis tanggal 22 Agustus 2019 dengan tuntutan menolak rasisme, menyuarakan perlunya refrendum bagi masyarakat Papua dan menuntut kemerdekaan Papua. Selanjutnya para terdakwa dan para peserta rapat yang lainnya menunjuk terdakwa IV sebagai ketua tim pelaksana unjuk rasa,” papar jaksa.

Pada 22 Agustus 2019, jaksa mengatakan para terdakwa bersama 100 orang peserta aksi unjuk rasa menuntut menolak rasisme, menyuarakan refrendum bagi masyarakat Papua dan menuntut kemerdekaan Papua.

Dalam unjuk rasa tersebut, para terdakwa juga melakukan aksinya dengan cara membuka baju, mengibarkan bendera bintang kejora, melukis wajah dan dada dengan bendera bintang kejora.

“Pada 25 Agustus 2019, bertempat di asrama Jayawijaya, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, para terdakwa bersama Tansya Mariam beberapa beberapa koordinator wilayah persatuan mahasiswa dan pemuda Papua di Jakarta melakukan evaluasi aksi unjuk rasa yang dilakukan 22 Agustus 2019. Selanjutnya para terdakwa merencanakan aksi unjuk rasa lebih yang akan dilaksanakan Kamis 28 Agustus 2019,” jelas jaksa.

“Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, dan Anes Tabuni menyepakati agenda unjuk rasa dengan tuntutan penolakan rasisme, penolakan kebijakan otonomi khusus Papua, menuntut hak menentukan nasib sendiri atau refrendum dan menuntut kemerdekaan Papua,” papar jaksa.

Dalam rapat itu, jaksa mengatakan Isay ditunjuk sebagai penanggung jawab aksi dan menamai aksi sandi Komunitas Monyet Papua Jakarta. Sedangkan Ambrosius sebagai notulis mengirimkan hasil rapat di grup whatsapp yang bernama Monyet Papua Jakarta.

“Pada 27 Agustus 2019, para terdakwa bersama Tasya rapat kembali di asrama Jayawijaya Lenteng Agung untuk memantangkan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara dan Mabes TNI AD,” kata jaksa.

Persidangan selanjutnya akan dilakukan pada tahun depan Kamis (2/1/2020) untuk agenda pembacaan eksepsi karena keenamnya mengajukan keberatan atas dakwaan yang dibacakan.

Surya Anta dan kelima temannya ditangkap polisi karena pengibaran bendera Bintang Kejora saat unjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta pada 28 Agustus 2019.

Keenamnya ditangkap secara terpisah pada 30 dan 31 Agustus 2019 atas tuduhan makar pada aksi 28 Agustus.[prs]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hukum

Pelibatan TNI dalam Berantas Terorisme Munculkan Kekhawatiran

Published

on

ist/net
Continue Reading

Hukum

Perkara Nurhadi akan Diarahkan ke Dugaan TPPU, Ini Pernyataan KPK

Published

on

ist/net
Continue Reading

Headline

Istri dan Teman Perempuan Hiendra Soenjoto Ditangkap

Published

on

Continue Reading
Loading...