Connect with us

DPR

Pemerintah Harus Tegas Soal WNI Disandera Abu Sayyaf

Published

on

Realitarakyat.com – Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Syaiful Bahri Anshori meminta Pemerintah bersikap tegas terkait dengan disanderanya WNI oleh kelompok perompak Abu Sayyaf pada September lalu.

“Saya berharap pemerintah bertindak tegas terkait dengan penyanderaan ini kalau dibiarkan kasihan dengan orang yang di sandera,” kata Syaiful Bahri dalam keterangan pers, Sabtu (21/12/2019).

“Oleh karena itu Pemerintah dalam hal ini TNI harus segera berkoordinasi dengan pemerintah Filipina guna membebaskan para WNI ditahan,” lanjut politikus PKB ini.

Ia pun berharap Pemerintah tidak boleh kalah oleh apapun apalagi terorisme terlebih adanya WNI menjadi korban penyanderaan dan ini tanggungjawab semua pihak.

“Saya fikir kita sepakat kalau pemerintah tidak boleh kalah dengan teroris atau penyandera dengan alasan apapun. Dan kita berharap Mengan baru ini segara bertindak dan bersikap soal penyanderaan ini,” tegas Syaiful Bahri.

Sebelumnya, TNI mengatakan pihaknya menunggu keputusan politik negara terkait langkah yang bisa dilakukan pihaknya dalam pembebasan tiga WNI itu.

“Itu kan mestinya pakai keputusan politik negara,” kata Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi di Mabes TNI, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (20/12/2019).

Dia mengatakan kalau negara belum memberi perintah, maka TNI belum bisa melakukan apapun. Menurutnya, langkah TNI baru bisa dilakukan berdasarkan keputusan politik negara.

“Jadi kalau politik negara belum mengatakan apa-apa, kita (TNI) tidak melakukan apa-apa,” ujar Sisriadi.

Diketahui, kelompok Abu Sayyaf diduga menculik tiga nelayan asal Indonesia dari perairan dekat Lahad Datu, Sabah, Malaysia, dan membawa mereka ke Filipina.

Mereka meminta uang tebusan sebesar 30 juta peso (Rp 8,3 miliar) untuk pembebasan mereka. Ketiga WNI itu diketahui telah disandera sejak September lalu.

Tiga WNI yang diculik itu diidentifikasi sebagai Samiun Maneu (27), Maharuydin Lunani (48), dan Muhammad Farhan (27). Lunani dan Farhan merupakan ayah dan anak. Ketiganya diculik oleh sekelompok pria bersenjata dari kapal mereka di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, pada September lalu. Dilaporkan bahwa ketiga WNI dibawa ke gugusan Kepulauan Tawi-Tawi di Filipina bagian selatan dan kemudian ke Jolo, yang diketahui merupakan markas Abu Sayyaf.

Menko Polhukam Mahfud MD pun mengatakan, pemerintah Indonesia terus mengupayakan pembebasan tiga warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Dia mengatakan upaya pembebasan tiga WNI ini terus dijalankan.

“Kesimpulannya begini kita akan melakukan langkah-langkah selanjutnya melanjutkan langkah-langkah yang sudah diambil selama ini untuk tetap berusaha membebaskan tersandera tanpa korban jiwa dan tanpa menodai kedaulatan negara kita maupun kedaulatan negara yang bersangkutan,” kata Mahfud di Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, kemarin.[prs]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DPR

DPR Minta PKH Tak Diselewengkan untuk Kepentingan Paslon dalam Pilkada

Published

on

Aziz Syamsuddin (ist/net)
Continue Reading

DPR

Komisi III Beri Perhatian pada Penanganan Covid-19 dan Kondusifitas Pilkada

Published

on

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Pangeran Khairul Saleh (ist/net)
Continue Reading

DPR

Kunjungi PT TPPI, Komisi VII DPR Soroti Proyek Revamping Kilang

Published

on

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto (ist/net)
Continue Reading
Loading...