Connect with us

Daerah

Polres Tanjungbalai Tak Jadikan Mesin Pengolah Sampah Sebagai Barang Bukti

Published

on

Realitarakyat.com – Setelah sebelumnya diberitakan menahan sebanyak 5 (lima) orang tersangka terkait kasus dugaan korupsi pengadaan mesin pengolah sampah an-organik di Dinas Kebersihan dan Pasar sekarang Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup, Polres Tanjungbalai akhirnya merilis berita yang menyatakan, pihaknya hanya menahan 2 (dua) orang tersangka dalam kasus tersebut.

Kedua orang tersangka tersebut yakni Ha (61), mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pasar serta AB (54), Wakil Direktur dari CV Noprizal Azari selaku perusahaan atau rekanan yang dipercaya mengadakan mesin pengolah sampah an-organik tersebut.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Putu Yudha Prawira mengatakan, penanganan perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi kegiatan pengadaan mesin pengolah sampah an-organik pada Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai TA. 2015 tersebut dilakukan berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/133/V/2018/SU/RES T. BALAI, tanggal 8 Mei 2018. Sesuai dengan proses hasil penyidikan yang dilakukan, lanjutnya, telah ditetapkan 2 ( dua ) orang tersangka dan tidak tertutup kemungkinan tersangka bertambah jumlahnya.

“Adapun identitas dari kedua tersangka tersebut adalah Ha (61), pensiunan PNS, warga Jalan Sei Raja, Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjungbalai dan AB (54), warga Jalan Meranti, Kabupaten Asahan. Dalam kasus tersebut, tersangka Ha (61) berperan sebagai PA/PPK yang saat itu menjabat sebagai Plt.Kepala Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai sedangkan tersangka AB (54) berperan sebagai Wakil Direktur II CV Noprizal Azari selaku rekanan dari pengadaan pekerjaan proyek tersebut.

Terhadap kedua tersangka telah dilakukan penahanan di RTP Polres Tanjungbalai terhitung sejak tanggal 16 Januari 2020. Sementara, kerugian keuangan negara dari kasus dugaan tindak pidana korupsi tersebut adalah senilai Rp 1.514.993.578 (satu miliar lima ratus empat belas juta sembilan ratus sembilan puluh tiga ribu lima ratus tujuh puluh delapan rupiah),” ujar Kapolres melalui keterangannya, Minggu (19/1/2020).

Menurut Putu Yudha, para tersangka melakukan tindak pidana korupsi tersebut dengan cara melakukan pembengkakan harga atau mark up terhadap nilai pekerjaan tersebut dengan tujuan menguntungkan diri sendiri dan orang lain. Akan tetapi, imbuhnya, mesin pengolahan sampah an-organik berikut dengan kelengkapan yang telah diadakan dalam kegiatan tersebut tidak dijadikan sebagai barang bukti karena mesin pengolahan sampah dimaksud telah menjadi barang inventaris milik negara (milik Pemko Tanjungbalai).

Pada kesempatan itu, Putu Yudha juga menginformasikan, bahwa penangkapan terhadap ke dua tersangka dilakukan oleh Penyidik Satreskrim Polres Tanjungbalai pada tanggal 15 Januari 2020 dan selanjutnya dilakukan penahanan sejak tanggal 16 Januari 2020. Katanya, kedua tersangka diancam melanggar Pasal 2 dan atau Pasal 3 dari UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Yunto UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Seperti diketahui, sejak tahun 2016 lalu, kasus pengadaan mesin pengolah sampah an-organik tahun anggaran (TA) 2015 di Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai ini telah mengundang sorotan dari para penggiat anti korupsi Kota Tanjungbalai. Hal itu disebabkan mesin pengolah sampah an-organik dengan pagu anggaran senilai Rp1,8 miliar ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya namun telah dilakukan serah terima barang dari pihak ketiga kepada Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai.

Terkait dengan dugaan korupsi dalam pengadaan mesin pengolah sampah an-organik tersebut, oleh penyidik dari Polres Tanjungbalai langsung menindak lanjutinya. Hal itu dibuktikan dengan diperiksanya sejumlah saksi-saksi terkait dengan kasus tersebut, sedikitnya ada 5 (lima) orang termasuk diantaranya H, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai.

Namun demikian, tanpa ada alasan yang jelas, kasus tersebut sempat mengendap bertahun-tahun. Dan baru-baru ini, kasus tersebut kembali mencuat setelah adanya informasi yang mengatakan, penyidik Polres Tanjungbalai telah membuka kembali kasus tersebut dan langsung melakukan penahanan terhadap 5 (lima) orang tersangka yang ternyata hanya ada 2 (dua) orang tersangka dan salah satu diantaranya adalah Ha, mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pasar Kota Tanjungbalai yang telah pensiun dari PNS.(ign)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Pertamina tingkatkan kapasitas produksi petani kopi Bener Meriah

Published

on

Continue Reading

Daerah

Kehilangan Spirit, Kajari Ende Dituding Biarkan Korupsi Tumbuh Subur

Published

on

Continue Reading

Daerah

MUI Lebak : Orang Tua Tega Bunuh Anak Kandung Akibat Kurang Pemahaman Agama

Published

on

Continue Reading
Loading...