Connect with us

Luar Negeri

Demi cinta dan Tanggungjawab Terdadap Tanah leluhur Masyarakat rela bertahan Di Kota Wuhan

Published

on

Realitarakyat.com – Cinta terhadap tanah leluhur dan kampung halaman itu pasti akan terbesit di setia hati seseorang, begitulah yang terjadi saat ini yang di tunjukkan warga Kota Wuhan yang merupakan Ibu Kota Provinsi Hubei, yang terletak di Sungai Yangtze, tempat lahirnya industri baja Tiongkok yang terkenal hingga ke seluruh dunia. Karena lokasinya yang sentral, Wuhan menjadi titik distribusi utama di Cina tengah untuk transportasi sungai, kereta api, jalan, dan lainnya.

Sebagai andalan infrastruktur nasional, Wuhan menjadi salah satu pusat industri terbesar di Tiongkok dengan 300 perusahaan besar dunia berinvestasi di kota tersebut, termasuk Walmart dan pabrik mobil seperti Honda, Nissan dan PSA Citroen Peugeot.

Tercatat dalam sejarah, Wuhan ialah sebuah kota pelabuhan pedalaman di tepi utara Yangtze, membentang dari Cina barat jauh hingga Shanghai. Kota ini sudah berusia sekitar 3.500 tahun.

Wuhan pernah berada di bawah kendali Inggris pada 1800-an. Kota ini juga pernah menjadi pelabuhan transit bagi tentara Jepang saat berkobarnya perang dunia kedua.

Kota Wuhan menjadi saksi bisu pecahnya pemberontakan Wuchang pada 1911, yang akhirnya membawa kejatuhan Dinasti Qing sekaligus mengawali berdirinya Republik Modern Tiongkok.

Akan tetapi, pemerintahan tersebut akhirnya mampu dikalahkan pasukan komunis pada 1949 hingga akhirnya berdiri Republik Rakyat Tiongkok sampai sekarang. Dengan kata lain, Wuhan adalah ibu kandung bangsa China, tempat berawalnya semua kejayaan yang berhasil diraih hingga saat ini.

Namun sekarang, 11 juta penduduk Wuhan berada dalam isolasi ketat dari pemerintah akibat penyebaran Coronavirus yang muncul pertama kali di sana sejak awal bulan.

Wabah virus Novel Corona merenggut kota indah bersejarah tersebut. Pemerintah China mengakui, keadaan yang mereka alami sekarang memang sudah masuk level berbahaya dengan jumlah kematian yang melewati epidemi SARS.

Tercatat, korban tewas hingga hari ini sudah menyentuh angka 361 orang. Sedangkan untuk infeksi yang terkonfirmasi di Tiongkok sudah menyentuh angka 17.238 (angka resmi Tiongkok termasuk Taiwan, Hong Kong Macao). Demikian dilaporkan Alison Rourke, seperti dikutip The Guardian, Senin (3/2/2020).

Tapi tadi siang, beredar sebuah video yang ditayangkan China Global Television Network (CGTN) melalui akun Twitter resminya, @CGTNOfficial berjudul “My city is hit by the coronavirus, but we will get through it”.

Video tersebut menginspirasi siapapun yang menyaksikan, hingga nantinya akan berpikir kembali bagaimana jika sebuah negara mengalami wabah mengerikan dan ditinggalkan oleh semua warga dunia?

Dapat bertahankah negara itu? Benarkah mereka akan hancur akibat sebuah wabah virus yang tidak tahu dari mana asalnya? Bagaimana jika negara itu adalah tempat saya lahir, dibesarkan, tempat saya tinggal? Dan itu adalah bangsa saya.

Sebuah kota bersejarah, yang akhirnya mendapat label sebagai penyebar virus kotor bagi dunia. Kota itu ditinggalkan warga seluruh dunia yang sebelumnya memanfaatkan setiap fasilitas yang ada di sana untuk kepentingan mereka sendiri.

Dapat bertahankah kota tersebut? Benarkah ia akan hancur akibat sebuah wabah virus mengerikan? Bagaimana jika kota itu adalah tempat saya dilahirkan, tumbuh dewasa, tempat saya tinggal, dan saksi bisu kisah hidup saya.

Berikut narasi inspiratif dari video yang berhasil viral tersebut saling bersahutan warga Wuhan teriak “Jiayou” :

Wuhan, Tiongkok
Kami mendambakan dunia yang cerah dan kembali menghirup udara segar
Tapi kami memutuskan untuk tinggal di Wuhan, karena cinta, saudara, dan tanggung jawab
Di Wuhan, sekelompok orang memutuskan untuk tetap bekerja
Demi memastikan kota ini terus berjalan dan membantu menjaga semua orang agar tetap merasa aman
Bagaikan ‘Malaikat berpakaian putih’ begitulah sekelompok anak muda mengenakan seragam
dan bekerja sama dengan setiap orang yang ada di sampingnya
Semua orang bersatu, dan kami akan bekerja sama
Untuk memerangi virus corona

Kota saya terkena Coronavirus, tetapi kami akan melewatinya
Saya yakin semuanya akan kembali seperti semula
Bunga sakura akan mekar, jalan kota akan kembali sibuk
Orang-orang akan menikmati mie panas sebagai sarapan pagi
Kami akan melepas masker dan kembali ke kehidupan normal
Kami akan pergi ke mana pun kami ingin pergi dan bertemu siapa pun yang ingin kami temui
Coronavirus pasti akan pergi
Semuanya akan baik-baik saja
Video ini didedikasikan untuk semua orang yang berjuang melawan Coronavirus
Tetaplah kuat, Wuhan.

Video beserta narasi didedikasikan untuk para tenaga medis, relawan, serta militer Tiongkok, yang memutuskan berada di Wuhan untuk sebuah misi kemanusiaan. Dan apa yang terjadi di Wuhan akhirnya menarik perhatian masyarakat dunia sekaligus membuat setiap mata akan terpejam sejenak untuk berpikir, bahwa ada yang sedang berjuang agar tetap hidup di belahan dunia sana.

Sementara di Indonesia, ratusan warga kota di Natuna protes keras mengenai kedatangan 238 Warga Negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China. Pemerintah Indonesia berhasil mengevakuasi mereka semua dalam keadaan sehat, keluar dari kota Wuhan.

Pemerintah menempatkan semua WNI yang sebagian besar adalah mahasiswa Indonesia tersebut di dalam sebuah hanggar pesawat Lanud TNI AU Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau, untuk menjalani karantina selama 14 hari, guna memastikan mereka tidak terjangkit virus Novel Corona. Walaupun mereka sehat, namun rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) memang mengharuskan karantina.

Tapi di luar hanggar, ratusan mulut berteriak agar para WNI, sesama saudara sebangsanya sendiri itu pergi. Demonstran berteriak, membakar ban, kebencian dan amarah bercampur menjadi satu.

“Pergi, Pergi,” begitu teriak mereka.

Sadarkah manusia, bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang serta potensi dilanda bencana besar. Paling luar biasa dan mengerikan adalah Tsunami Sulawesi pada 2018 lalu. Dan sebelumnya, masih segar pula dalam ingatan ketika Aceh luluh lantak akibat tsunami pada 2004 silam. Baik Poso maupun Donggala serta Aceh, berada tepat di pinggir lautan luas.

Saat bencana, seluruh dunia datang membantu Indonesia untuk pemulihan Aceh maupun Poso, Sulawesi Tengah. Dan seluruh masyarakat Indonesia, tidak pandang siapapun dia, ikut membantu dengan memberikan pengorbanan waktu, tenaga, sampai materi. (Vin)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Luar Negeri

Sebuah Mobil Terobos Masuk Halaman Masjidil Haram di Makkah

Published

on

ist/net
Continue Reading

Luar Negeri

Antisipasi Badai Terkuat di dunia 2020, Filipina Perintahkan Evakuasi Penduduk Luzon

Published

on

ist/net
Continue Reading

Luar Negeri

Puluhan Ribu Muslim di Wilayah Palestina Protes Pernyataan Presiden Prancis

Published

on

ist/net
Continue Reading
Loading...