Connect with us

DPR

Hari Ini Forum Seniman TIM akan Temui DPR RI

Published

on

Realitarakyat.com – Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM), akan diterima oleh Komisi X DPR-RI, Dede Yusuf bersama rekan-rekannya, yang membidangi urusan kebudayaan. Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara para seniman dengan para wakil rakyat itu dijadwalkan berlangsung Senin (17/2/2020) pukul 10.00-12.00 WIB.

Sudah tiga bulan lebih, Forum Seniman Peduli TIM tanpa kenal lelah mengusung tagar #saveTIM melakukan berbagai aksi menolak Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 63 Tahun 2019, yang memberi kewenangan kepada BUMD Pemprov DKI Jakarta, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk mengelola TIM, kelak ketika usai kegiatan pembongkaran dan pembangunan yang tengah berlangsung sekarang.

Disebutkan, Jakpro yang tugas pokoknya merawat gedung-gedung DKI itu, nantinya diserahi tugas untuk mengkomersialkan seluruh ruang dan bangunan, menarik penghasilan dari penyewaan 200 kamar hotel, dari area parkir bawah tanah seluas lapangan bola, serta dari media iklan elektronik luar ruang yang akan dipasang di tempat-tempat strategis kawasan TIM.

Kegiatan kapitalistik itu, menurut Pergub yang dibuat tanpa melibatkan pendapat Akademi Jakarta beserta Dewan Kesenian Jakarta, akan berlangsung selama 28 tahun (dan ada kemungkinan kelak akan diperpanjang sampai 100 tahun).

Delegasi seniman dari berbagai daerah dan elemen seni yang akan hadir di gedung rakyat sejumlah lebih kurang 40 orang. Akan tetapi bisa diikuti oleh ratusan seniman Jabodetabek, yang sejak kemarin sudah siap hadir untuk memberikan dukungan. Mereka dipimpin oleh budayawan Radhar Panca Dahana, dan Noorca M. Massardi.

Dikabarkan, Dolorosa Sinaga, seniman patung yang juga pengajar di Institut Kesenian Jakarta akan hadir bersama Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Rayni Massardi, Irma Hutabarat, dan beberapa tokoh lainnya, yang sangat mencemaskan nasib TIM.

Pada Jumat (14/2) lalu, pasca peruntuhan gedung Graha Bhakti Budaya (GBB) dan bekas ruang pameran Galeri Cipta I (yang kemudian, di zaman Orba, dikuasai oleh bioskop XXI), Radhar Panca Dahana bersama Noorca M. Massardi serta puluhan seniman muda, memaksakan diri untuk menggelar ritus “Pertunjukan Terakhir”, sebagai penghormatan terakhir bagi tempat yang mengandung jutaan kenangan, tepuk tangan, kesedihan dan kebahagiaan, serta airmata itu.

Mereka menyampaikan kesedihan, kekecewaan, sekaligus kemarahan dengan membacakan sejumlah tuntutan keras untuk mencabut Peraturan Gubernur yang aneh itu, serta menuntut dilakukannya moratorium atas kegiatan ‘revitalisasi’ sepihak yang dilancarkan dengan darah dingin oleh Pemprov DKI Jakarta.

Seperti ritual mengasah kapak perang, mereka menyuarakan protes dengan mengibarkan bendera merah putih, memainkan musik thema film The Godfather “Live in Italy” (yang mengingatkan pada kuasa mafioso Sisilia) lewat akordion dengan suara menyayat hati, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil menangis, dengan emosi dahsyat yang menyesaki hati, dada, dan syaraf kepala, di atas gunungan reruntuhan puing Graha Bhakti Budaya dan mesin-mesin penghancur.

Nampaknya, itulah ekspresi seniman yang sepertinya belum pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban umat manusia dan bangsa beradab di dunia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DPR

DPR Sarankan Jokowi Bentuk Kementerian Khusus Papua

Published

on

Continue Reading

DPR

Tindakan Tegas Jokowi Terkait Aksi Benny Wenda Diperlukan untuk Kedaulatan NKRI

Published

on

Continue Reading

DPR

Pemerintah Putuskan Belajar Tatap Muka Awal 2021, DPR: Keputusan yang Sulit

Published

on

Continue Reading
Loading...