Legislator NTT Ini Desak Pemerintah Lebih Berpihak pada Peternak Kecil - Realita Rakyat
Connect with us

Politik

Legislator NTT Ini Desak Pemerintah Lebih Berpihak pada Peternak Kecil

Published

on

Yohanis Fransiskus Lema, Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDIP Dapil NTT 2. Sumber Foto : Dok/Istimewa

Realitarakyat.com – Peternak ayam dan telur skala kecil selalu selalu kalah bersaing berhadapan dengan korporasi-korporasi dengan modal finansial besar dan kemudahan regulasi. Dengan demikian mampu melakukan penetrasi dan mendikte harga di pasar. Dampaknya, harga ayam dan telur peternak kecil jatuh.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR dapil Nusa Tenggara Timur II, Yohanis Fransiskus Lema menghadiri audiensi virtual Komisi IV DPR RI dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), di Kompleks Parlemen, Jakarta.

“Saat ini para peternak unggas merasa terpuruk karena harga ayam dan telur yang terus turun di tengah pandemi Corona (Covid-19). Negara harus hadir mengatur pasar agar jangan terjadi monopoli dan kartel di pasar yang terus merugikan peternak kecil. Telah banyak usaha peternak kecil bangkut,” tegas Ansy,

Karena itu, Ansy mendesak Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menunjukkan komitmen dan keberpihakan kepada nasib peternak kecil perunggasan dalam bentuk kebijakan yang tepat dan terukur untuk lima tahun ke depan.

Ansy mengaku telah mendengar keluhan para peternak kecil yang tidak mendapat perhatian pemerintah.

Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan, harga ayam di tingkat peternak yang dilepas dari kandang sebesar Rp 13.000-14.500/kg. sementara harga pokok produksi (HPP) 1 kg ayam mencapai Rp 17.000-18.000/kg. Sedangkan harga telur jauh di bawah HPP Rp 17.000 per kg.

“Ini tentu memukul peternak kecil perunggasan domestik. Bagaimana peternak bisa untung kalau pendapatan lebih kecil dari biaya produksi?” ujarnya prihatin.
Para peternak unggas kata Ansy Lema, mahalnya harga Pakan Jagung. Harga jagung lokal Rp.4.300/kg sementara harga jagung impor 3.300-3.700/kg. Bahkan ada peternak yang membeli dengan harga 5.200/per kg.

Ansy juga menyinggung soal harga pangan lainnya seperti jagung. Pemerintah sudah melarang impor jagung, tetapi tidak diikuti kebijakan konkret untuk mendistribusikan pakan ke para peternak.

“Harga Pakan Jagung di Indonesia sangat mahal. Tapi, peternak harus membeli karena produksi telur dan daging ayam sangat bergantung kepada pakan jagung. Pemerintah harus turun tangan melancarkan distribusi pakan agar tidak terjadi kelangkaan,” ulasnya.

Anggota Komisi IV ini mengusulkan, bila perlu Pemerintah memberi bantuan peternak untuk beli pakan berdasarkan database yang valid-akurat. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dapat menjadikan wabah Corona sebagai momentum untuk merevitalisasi komitmen untuk lebih memerhatikan peternak kecil domestik. Regulasinya bisa berupa mandat bagi korporasi-korporasi pakan untuk membeli pasokan ayam dan telur dari peternak kecil sebesar 20-30 persen.

“Harga ayam dan telur dari peternak kecil juga harus diatur atau menggunakan Harga Patokan Pemerintah agar memutus rantai para tengkulak dan kartel harga di pasar,” tegas Ansy Lema, demikian pria asal NTT ini disapa. (DL).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Politik

Inilah Alasan Tito Karnavian Kenapa Pilkada Serentak Tetap Digelar

Published

on

Continue Reading

Politik

AHY : New Normal Bukan Pulih Tapi Ekstra Waspada

Published

on

Continue Reading

Politik

Mahfud Sidik : Partai Gelora Siap Berkompetisi Dengan Semua Partai Politik

Published

on

Continue Reading
Loading...