Mudik Lebaran Biasanya Menggembirakan, Kini Justru Menakutkan, Ini Saran Denny JA - Realita Rakyat
Connect with us

Nasional

Mudik Lebaran Biasanya Menggembirakan, Kini Justru Menakutkan, Ini Saran Denny JA

Published

on

foto: ist/net

Realitarakyat.com – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menilai, suasana mudik menjelang perayaan Lebaran biasanya begitu hangat dan menggembirakan, karena berkumpulnya sanak saudara di kampung halaman. Namun kini, mudik justru terasa menakutkan akibat serangan wabah virus corona (COVID-19) yang sudah menjalar di hampir seluruh provindi di Indonesia, bahkan dunia.

Mengapa menakutkan, karena, menurut pendiri LSI, Denny JA, melalui siaran persnya, Sabtu (4/4/2020), Indonesia akan melejit masuk ke dalam lima besar negara yang paling terpapar virus corona (COVID-19), bila saja pemerintah tidak mengeluarkan larangan mudik lebaran tahun.

Dalam hitung-hitungan sederhana, kata Denny, bila mengacu pemudik pada tahun 2019, dari wilayah Jabodetabek jumlahnya mencapai 14,9 juta jiwa penduduk. Angka itu membengkak jika ditambah pemudik dari kota besar lain.

“Katakanlah, Indonesia tetap mengasumsikan mudik tahun 2020 pada angka 14,9 juta jiwa se-Tanah Air. Di kampung halaman, para pemudik akan berinteraksi dalam kultur komunal. Mereka berjumpa keluarga besar, tetangga, sahabat,” katanya.

Dia mengatakan, jika rata-rata satu orang yang mudik berinteraksi dengan tiga orang lainnya di kampung, maka pemudik akan berinteraksi dengan sekitar 45 juta jiwa penduduk Indonesia.

Denny mencontohkan, jika satu persen saja dari jumlah populasi pascamudik itu terpapar COVID-19, artinya setelah mudik akan ada 450 ribu jiwa penduduk Indonesia menjadi korban COVID-19.

“Angka 450 ribu korban COVID-19 pascamudik ini, sudah melampaui populasi korban di Amerika Serikat (245.380 kasus) yang kini berada di puncak negara paling terpapar virus corona di dunia,” ujarnya menambahkan.

Sebagaimana diketahui, saat ini lima negara yang paling terpapar virus corona (COVID-19) adalah Amerika Serikat urutan pertama (245.380 kasus), kedua Spanyol (117.710 kasus), ketiga Italia (115.242 kasus), keempat Jerman (85.263 kasus), dan kelima China (81.620 kasus).

Karenanya, menurut Denny, pemerintah tidak cukup hanya mengimbau. Misalnya, mereka yang mudik diimbau karantina 14 hari atau yang pergi atau pulang mudik statusnya menjadi ODP (orang dalam pemantauan) atau PDP (pasien dalam pengawasan).

“Dilihat jumlah pemudik sebanyak 14,9 juta jiwa itu. Apakah pemudik akan dapat diisolasi dengan ketersediaan rumah sakit atau infrastruktur saat ini?,” katanya.

Denny menambahkan, jumlah COVID-19 di 32 provinsi pada 3 April 2020 sebanyak 1.986 orang, jumlah yang meninggal 181 orang, dan jumlah yang sembuh 134 orang. Kondisi itu menyebabkan banyak rumah sakit dan tenaga medis kekurangan fasilitas.

Sebab itu, Denny menyarankan Pemerintah Pusat untuk mempertimbangkan dua hal. Pertama: melarang mudik, yang diikuti kontrol ketat pihak keamanan di semua jalur mudik. Kedua: mencarikan solusi untuk mereka yang ingin pulang kampung karena kesulitan ekonomi untuk tetap tinggal di kota saat ini.

“Ini memang situasi tidak normal. Mudik biasanya begitu hangat dan menggembirakan. Kini mudik justru menakutkan. Namun Pemerintah Pusat berada dalam posisi menentukan bagaimana mudik 2020 akhirnya dikenang,” kata Denny lebih lanjut. (ndi)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Nasional

Anang Hermansyah Minta Pemerintah Agar Merumuskan Skema Pola Hidup Baru

Published

on

Continue Reading

Headline

Update 28 Mei: Pasien Positif Covid-19 Bertambah 687 Jadi 24.538 Orang, 6.240 Sembuh, 1.496 Meninggal

Published

on

Continue Reading

Nasional

Gelar Ratas, Presiden Jokowi : Pemerintah Harus Antisipasi Pergeseran Trend Pariwisata Usai Covid-19

Published

on

Continue Reading
Loading...