LP3BH Manokwari: Sudah Saatnya PT Freeport Lakukan Audit Sistem Keamanan Internal - Realita Rakyat
Connect with us

Daerah

LP3BH Manokwari: Sudah Saatnya PT Freeport Lakukan Audit Sistem Keamanan Internal

Published

on

Foto: istimewa

Realitarakyat.com – Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Papua Barat, Yan Christian Warinussy mengingatkan PT Freeport Indonesia di tanah Papua untuk melakukan audit dan evaluasi tentang sistem pertahanan dan keamanan internal perusahaan tambang emas raksasa tersebut.

Pasalnya peristiwa penembakan terhadap warga sipil (karyawan) setempat bukan baru sekali dua kali tapi sudah berulang kali terjasdi.

Menurutnya, peristiwa penembakan terhadap warga sipil karyawan PT Freeport Indonesia, Senin (30/3) di Office Building (OB) perusahaan raksasa tersebut yang diduga melibatkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Peristiwa tersebut seyogyanya menjadi dasar bagi PT Freeport Indonesia untuk mengevaluasi dan melakukan audit terhadap sistem pengamanan internal usaha pertambangan besar di Tanah Papua tersebut,” kata Yan kepada media ini, Selasa (7/4/2020).

Dia mengatakan bahwa aspek pengamanan objek vital negara hendaknya menjadi landasan kokoh bagi perusahaan ini untuk merundingkan kembali aspek pengamanan usahanya bersama Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Serta juga melibatkan pemerintah daerah Propinsi Papua berdasarkan amanat pasal 48 ayat (2) dan pasal 14 dab pasal 15 UU RI No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.

“Jadi, sudah saatnya Gubernur Papua terlibat aktif dalam melakukan evaluasi terhadap aspek pengamanan terhadap operasi perusahaan raksasa Freeport Indonesia yang sudah bekerja di Tembagapura sejak tahun 1967 tersebut.” lanjutnya.

Bahwasannya, keberadaan PT.Freeport Indonesia yang melakukan kegiatan ekspolitasi mineral emas, perak, tembaga dan konon uranium dari perut bumi Nemangkawi tersebut direvieuw dan diaudit oleh negara dengan melibatkan pihak swasta yang berpengalaman di bidant pengamanan investasi internasional.

“Ini penting untuk memastikan bagaimana sebuah sistem pengamanan bagi perusahaan sekaliber Freeport di sebuah wilayah yang seringkali menuai konflik bersenjata dan berimbas pada aspek keselamatan dan kenyamanan bekerja karyawannya sendiri. Penting karena bisa membawa dampak langsung pada kelangsungan kegiatan operasional pertambangan raksasa di dunia tersebut,” imbuh pegiat HAM berlatar belakang pengacara dan jurnalis ini.

“Menurut pandangan saya sebagai Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) bahwa sejak tahun 1960-an sesungguhnya keberadaan kandungan mineral emas, perak, dan tembaga di Gunung Bijih (Grasberg), Tembagapura-Papua telah menjadi faktor penting yang mempengaruhi ‘skenario integrasi Papua melalui peralihan administratif’ pemerintahan dari Belanda-PBB-Indonesia tahun 1963.”

Serta ikut menyebabkan “kejatuhan” Presiden Soekarno pasca peristiwa Gestapu tahun 1965. Hal ini ditulis oleh Greg Pulgrain dalam bukunya : Bayang-bayang Intervensi, Perang Siasat John F.Kennedy dan allen Dulles atas Sukarno.

Buku Poulgrain tersebut pada Kata Pengantarnya oleh Ikrar Nusa Bhakti ditulis demikian : ,….”bukan untuk kepentingan negara atau bahkan kepentingan CIA (Central Inteligent Agency), melainkan untuk kepentingan pribadi sabg direktur yang terobsesi ingin menguasai tambang emas, perak dan tembaga untuk Rockefeller Mining and Oil Company.

“Hanya untuk memenuhi ambisi ekonominya itu, Allen Dulles tega mendalangi pemberontakan di Indonesia, membunuh tokoh-tokoh politik pada tingkatan negara di Amerika Serikat dan Indonesia. Bahkan hal tersebut dipaparkan pula oleh Amiruddin al Rahab di bukunya : Heboh Papua; Perang Rahasia, Trauma dan Separatisme,” urai Yan.

Al Rahab menguraikan catatannya mengenai operasi militer di Tanah Papua pada bagian pertama bukunya dengan judul “Operasi-operasi militer di Papua : Pagar Makan Tanaman?” Oleh sebab itu proses evaluasi atau revieuw sekaligus audit sistem pengamanan operasi tambang di Tembagapura, Mimik-Papua sudah saatnya mendesak dilakukan.

Profil Singkat

Yan Christian Warinussy adalah alumnus Jurusan Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih (Uncen).

Ia juga seorang Advokat dan Pembela HAM. Yan Christian Warinussy pernah meraih Penghargaan Internasional di Bidang HAM “John Humphrey Freedom Award” tahun 2005 di Canada.

Yan juga pernah menjadi jurnalis pada Surat Kabar Harian Cenderawasih Pos di Jayapura. Menjadi Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari.

Kini, Yan Christian Warinussy menjabat Deputy Koordinator pada Jaringan Damai Papua (JDP). Di bidang praktisi hukum, ia juga sebagai salah satu Advokat dan Pengacara bagi Gubernur Papua Barat.(vee)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Lombok Di Guncang Gempa. Warga Berhamburan Keluar Rumah

Published

on

Continue Reading

Daerah

Polda Jambi Gagalkan Penyelundupan 44.800  Ekor Benih Lobster Senilai Rp6,73 Miliar

Published

on

Continue Reading

Daerah

Takut Corona, Mayat Pria Dibiarkan Tergeletak di Trotoar

Published

on

Continue Reading
Loading...