Waspadai Gelombang Kedua COVID-19 yang Diprediksi akan Terjadi - Realita Rakyat
Connect with us

Headline

Waspadai Gelombang Kedua COVID-19 yang Diprediksi akan Terjadi

Published

on

foto: ist/net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Beberapa bulan terakhir ini jumlah kasus per hari di negara-negara yang pertama kali terkena dampak pandemi COVID-19 menurun drastis, terutama Tiongkok.

Bahkan, beberapa dari negara tersebut membuka kembali kota-kota yang menjadi pusat wabah. Walaupun demikian, banyak ahli yang mewanti-wanti adanya gelombang kedua dari COVID-19.

Apa itu gelombang kedua COVID-19 dan bagaimana dunia perlu menghadapinya? Simak ulasan di bawah ini untuk tahu lebih lengkapnya.

Waspadai gelombang kedua pandemi COVID-19
Akhir tahun 2019 di Wuhan, Tiongkok muncul sebuah wabah penyakit baru bernama COVID-19. Penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia ini kini telah menjangkiti lebih dari tiga juta kasus di seluruh dunia dan ratusan orang meninggal dunia.

Salah satu upaya pemerintah di berbagai negara untuk menekan angka penyebaran virus adalah menutup kota (lockdown) dan mengimbau masyarakat untuk menjalani karantina di rumah.

Rutinitas harian pun diberhentikan, sekolah ditutup, dan banyak orang yang mau tidak mau harus bekerja dari rumah.

Metode ini ternyata cukup efektif di sejumlah negara yang terkena dampak awal dari COVID-19, terutama Tiongkok. Imbauan yang disertai dengan campur tangan pemerintah dalam menanggapi menghasilkan penurunan angka kasus yang cukup drastis hingga tidak ada sama sekali.

Kabar baik tersebut akhirnya membuat pemerintah Tiongkok untuk membuka kembali negara mereka pelan-pelan. Banyak masyarakat yang mulai menjalani aktivitas harian mereka meskipun belum sepenuhnya kembali normal.

Walaupun demikian, kondisi ini tidak membuat para ahli menjadi lega mengingat adanya kemungkinan gelombang kedua pandemi COVID-19. Hal ini sudah diperingatkan oleh WHO lewat siaran pers yang dilakukan pada 27 April 2020.
Negara yang mulai melonggarkan aturan lockdown kemungkinan besar akan menghadapi tantangan baru, seperti mencegah peningkatan transmisi.

Hal ini dikarenakan COVID-19 adalah penyakit baru yang seluk beluknya belum diketahui dengan jelas. Maka itu, pendekatan dan langkah-langkah yang bijaksana kan menjadi kunci di beberapa bulan ke depan.

Menurut WHO, aturan lockdown dan karantina di rumah perlu dilepas secara hati-hati. Jika dilakukan sembarangan, kemungkinan besar penyebaran virus dapat kembali terjadi.

Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam dua, tiga, hingga lima bulan ke depan. Apakah gelomang kedua COVID-19 menyebabkan kerusakan yang sama atau tidak.

Potensi gelombang kedua pandemi di Tiongkok
Beberapa penelitian dilakukan untuk melihat potensi dari gelombang kedua ini. Salah satu penelitian tersebut berasal dari The Lancet.

Di dalam studi ini, para peneliti mencoba untuk memantau penularan dan tingkat keparahan COVID-19 untuk strategi menghadapi pandemi selanjutnya. Studi ini diterapkan di beberapa negara di Tiongkok di luar provinsi Hubei.

Sebagai negara pertama yang terkena dampak dari pandemi ini, Tiongkok tampaknya telah berhasil menghentikan gelombang pertama lewat langkah-langkah yang agresif.

Akan tetapi, risiko dari COVID-19 masih terus mengintai, terutama penularan virus yang berasal dari orang yang baru dari luar negara.

Para peneliti akhirnya menganalisis data dari Komisi Kesehatan lokal terkait kasus COVID-19 yang dikonfirmasi antara pertengahan Januari dan 29 Februari 2020 di kota-kota tertentu.

Jumlah kasus harian dari luar dan lokal baru pun dipakai untuk membuat kurva epidemi untuk setiap lokasi. Data ini dibuat berdasarkan tanggal timbulnya gejala, kapan kasus terkonfirmasi dilakukan, hingga tindakan pengendalian virus setelah gelombang pertama berkurang.

Analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah di luar Hubei perlu mengangkat langkah-langkah pengendalian secara bertahap. Hal ini bertujuan agar jumlah angka kasus baru saat gelombang kedua COVID-19 tidak melebih gelombang pertama.

Jika tidak, angka kasus akan semakin meningkat selama proses mengembalikan keadaan menjadi seperti semula. Selain itu, sebuah perkiraan muncul bahwa physical distancing perlu diterapkan kembali secara bergantian hingga tidak mengurangi beban saat kembali ke semula.

Semua hal ini akan membutuhkan usaha ekstra agar angka kasus tidak melonjak tiba-tiba seperti saat gelombang pertama.

Dengan begitu, pemerintah dapat menghindari dampak besar yang dihasilkan oleh gelombang pertama dari COVID-19. Mulai dari gugurnya tenaga kesehatan hingga berbagai sektor bisnis yang lumpuh akibat pandemi ini.

Mempersiapkan diri menghadapi gelombang kedua COVID-19
Banyak hal terkait COVID-19 belum diketahui, sehingga mungkin saja akan sulit untuk mengatur rencana dalam menghadapi gelombang kedua pandemi ini.
Ada beberapa hal yang sebenarnya bisa terus diterapkan dalam mengatasi masalah ini, yaitu:

Tetap menerapkan physical distancing
Salah satu hal yang perlu tetap dilakukan dalam mempersiapkan diri menghadapi gelombang kedua COVID-19 adalah physical distancing.

Pemerintah masih perlu tetap mengimbau masyarakat untuk tetap menghindari kerumunan atau menggelar acara yang melibatkan orang banyak.

Hal ini dikarenakan beberapa bulan ke depan mungkin akan ada banyak negara yang mulai kembali ruang publik dan bisnis mereka. Kembali bekerja dan bersekolah hingga bertemu dengan orang lain pun perlahan kembali menjadi rutinitas biasa.

Physical distancing dinilai sangat membantu dalam menekan angka penyebaran virus dan meringankan bebas petugas kesehatan.

Maka itu, gelombang kedua pandemi ini perlu dihadapi dengan tetap menerapkan upaya pencegahan COVID-19, seperti rutin mencuci tangan dan menjaga jarak dari orang lain.

Menerapkan tes masif dan pelacakan kontak besar-besaran
Selain physical distancing, menghadapi gelombang kedua COVID-19 juga diperlukan kontribusi pemerintah dalam menerapkan tes dan pelacakan kontak besar-besaran.

Pemerintah pun diimbau untuk tetap memperhatikan warganya dengan saksama, termasuk melindungi kelompok yang berisiko.

Hal ini bertujuan agar kasus COVID-19 gelombang baru dapat diidentifikasi sebelum kembali menjadi wabah yang lebih besar. Dengan demikian, angka pasien yang diharuskan rawat inap yang memberatkan tenaga kesehatan pun bisa ditekan.

Gelombang kedua COVID-19 sebenarnya dapat diatasi jika pemerintah dan masyarakat mampu bekerja sama dengan baik. Baik itu pemerintah yang melindungi warganya maupun warganya yang ikut berkontribusi dalam mengikuti aturan yang dianjurkan pemerintah. (ndi)

 

 

sumber: hellosehat

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Usai Geledah Rumah Pengusaha di Kisaran , Hari Kedua KPK Geledah RSUD Aek Kanopan

Published

on

Continue Reading

Headline

PN Jakpus Hari Ini Pembacaan Vonis 2 Terdakwa Penyiram Novel Baswedan Dibacakan Pagi Ini

Published

on

Continue Reading

Headline

Presiden Jokowi Ungkap Dana Pemda Rp170 Triliun Nganggur di Bank Ini Daftar Nama nama Pemdanya

Published

on

Continue Reading
Loading...