Di Bogor Ada 23 Desa yang Berisiko Tinggi Penularan COVID-19, Ini Catatan BIG - Realita Rakyat
Connect with us

Daerah

Di Bogor Ada 23 Desa yang Berisiko Tinggi Penularan COVID-19, Ini Catatan BIG

Published

on

foto: ist/net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Setidaknya ada 23 desa di Kabupaten Bogor yang memiliki risiko tingga penularan COVID-19 yang tersebar di enam kecamatan, dan menjadi pusat konsentrasi atau episenter penularan.

Demikian catatan Badan Informasi Geospasial (BIG) yang disampaikan Kepala Bidang Pemetaan Kebencanaan dan Perubahan Iklim, Ferrari Pinem, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/6/2020).

“Berdasar derajat kepadatan yang menunjukkan tingkat konsentrasi kejadian dapat dikatakan bahwa penduduk di desa tersebut mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi daripada wilayah lain,” katanya.

Ke-23 desa itu, menurut dia, tersebar di enam kecamatan. Pertama, Kecamatan Gunung Putri sebanyak lima desa, yakni Bojong Kulur, Ciangsana, Cikeas Udik, Nagrak, dan Wanaherang.

Kedua, Kecamatan Cileungsi sebanyak lima desa, yaitu Desa Cileungsi, Cileungsi Kidul, Limusnunggal, Pasir Angin, dan Cipenjo.

Ketiga, Kecamatan Cibinong sebanyak lima desa, yaitu Pabuaran, Harapan Jaya, Pondok Rajeg, Ciriung, dan Ciri Mekar. Keempat, Kecamatan Bojonggede sebanyak enam desa yaitu Desa Bojong Gede, Bojong Baru, Rawa Panjang, Pabuaran, Susukan, dan Raga Jaya.

Kelima, Kecamatan Tajurhalang satu desa, yaitu Kali Suren. Keenam, Kecamatan Kemang, juga satu desa, yakni Desa Tegal.

Ferrari mengatakan, 23 desa itu merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan wilayah lain yang ada di Kabupaten Bogor.

Hal itu dibuktikan dengan data kepadatan penduduk dimana titik konsentrasi kejadian berada pada desa atau kelurahan yang sebagian besar memiliki kepadatan penduduk lebih dari 100 jiwa per hektar.

“Dengan kata lain potensi risiko masih tinggi karena epicenter berada pada wilayah dengan kecamatan yang padat penduduk,” kata Ferrari.

Menurutnya, dari peta yang ada juga menyimpulkan bahwa wilayah yang menjadi konsentrasi kejadian positif COVID-19 adalah wilayah yang berasosiasi dengan akses transportasi utama wilayah Bogor – DKI Jakarta.

Akses utama tersebut meliputi jalur kereta rel listrik (KRL), jalan arteri (Jl. Raya Jakarta-Bogor), maupun jalan tol (Jagorawi).

Ia menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor agar memprioritaskan 23 desa tersebut untuk mengimplementasikan protokol kesehatan secara maksimal, jika berencana menerapkan kenormalan baru atau new normal.

“Selain itu pelaksanaan pemantauan dan kontrol laju penyebaran harus terus ditingkatkan dengan strategi pelaksanaan test secara masif dan peningkatan layanan kesehatan,” ujarnya. (ndi)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

karena Pesta Dibubarkan Polisi, Nasi Terpaksa Dibagi – bagikan Ke Anak Yatim

Published

on

Continue Reading

Daerah

Ribuan Belalang Serbu Landasan Bandara Udara Umbu Mehang Kunda NTT, Petugas Khawatir Penerbangan Terganggu

Published

on

Continue Reading

Daerah

Curi Celana Dalam Mantan Istri, Pria di Lombok Timur Babak Belur Hingga Tangan Kiri Putus

Published

on

Continue Reading
Loading...