Ketua DPR Amerika Minta Donald Trump Jadi Juru Damai di Kasus George Floyd Bukan Sebaliknya - Realita Rakyat
Connect with us

Luar Negeri

Ketua DPR Amerika Minta Donald Trump Jadi Juru Damai di Kasus George Floyd Bukan Sebaliknya

Published

on

image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi mendesak Presiden Donald Trump mendamaikan demonstrasi antirasisme menyusul kematian etnis kulit hitam, George Floyd. Dalam sepekan terakhir aksi protes damai berujung kerusuhan dan penjarahan di beberapa negara bagian.

Pelosi mencontohkan langkah mantan Presiden George W. Bush dan Obama ketika menghadapi gelombang demonstrasi.

Ketika menjabat Bush sempat menghadapi kerusuhan sipil di Los Angeles yang dikenal dengan kerusuhan Rodney King. Sementara Barack Obama ketika menjabat menghadapi krisis usai kematian etnis kulit hitam, Eric Garner yang tewas setelah leher dan dadanya ditekan oleh polisi.

“Kami berharap Presiden Amerika Serikat bisa mengikuti jejak presiden sebelum dia dengan mendamaikan keadaan dan bukan menyulut keadaan semakin memanas,” ujar Pelosi seperti mengutip Associated Press.

Pelosi juga mengkritik pose Trump saat mengacungkan Alkitab sambil berdiri di depan Gereja Apiskopal St. John. Ia mengatakan Alkitab yang dibawa Trump hanya simbol untuk menolak tindakan kekerasan terhadap pedemo yang menggelar aksi damai.

Sikap Trump yang dinilai memperkeruh kondisi juga sempat menuai protes dari Kepala Kepolisian Houston, Texas, Art Acevedo.

Acevedo meminta Trump untuk tutup mulut jika tidak memiliki pernyataan yang bisa menenangkan keadaan dan meredam aksi demonstran.

“Kepada Presiden AS atas nama seluruh polisi di negara ini, saya katakan jika Anda tidak memiliki sesuatu yang konstruktif, lebih baik tutup mulut Anda,” kata Acevedo saat diwawancarai oleh CNN soal tanggapan polisi terkait respons Trump dalam menangani protes pada Senin (1/6).

Amerika Serikat dalam sepekan terakhir tengah menghadapi gelombang aksi antirasisme besar-besaran yang dipicu oleh kematian Floyd pada 25 Mei lalu. Ia meninggal kehabisan napas setelah lehernya ditekan oleh seorang anggota polisi kulit putih yang tengah berusaha menangkapnya.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

Semula protes di AS berlangsung damai namun kerusuhan tidak terelakkan di beberapa wilayah, terutama setelah oknum pedemo merusak properti kota seperti kantor CNN di Atlanta, gereja di Washington DC, dan membakar kantor polisi di Minneapolis.(Din)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Arab Saudi Mulai Pendaftaran Haji Bagi Warga Asing

Published

on

Continue Reading

Luar Negeri

Bisa Pidanakan Oposisi, AICHR Indonesia Kecam Pengesahan UU Anti-Terorisme Filipina

Published

on

foto: ist/net
Continue Reading

Luar Negeri

Parlemen Oposisi Malaysia Tolak Pergantian Ketua DPR

Published

on

foto: ist/net
Continue Reading
Loading...