OJK : Di Indoesia Ada 42 Bank Investor Asing - Realita Rakyat
Connect with us

Ekonomi

OJK : Di Indoesia Ada 42 Bank Investor Asing

Published

on

image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan pangsa pasar bank asing di Indonesia sebesar 27 persen. Sementara itu, mayoritas pasar perbankan dikuasai oleh bank domestik sebesar 73 persen.

Industri perbankan Tanah Air tengah menjadi sorotan di tengah pandemi Covid-19. Sekitar 42 bank di Indonesia dilaporkan dimiliki investor asing.

Dari jumlah tersebut, bank dalam kepemilikan asing yang asetnya di atas Rp100 triliun, antara kain Bank Danamon, CIMB Niaga, Maybank Indonesia, OCBC NISP, UOB Indonesia, Permatabank, dan MUFG Bank.

“Porsi kepemilikan tidak menjadi masalah, yang penting kontribusinya kepada perekonomian Indonesia, menjalankan fungsi intermediasi agar dunia usaha berjalan, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja dan pada akhirnya pajak meningkat,” ujar Chairman Infobank Institute Eko B Supriyanto.

Dia mengatakan, kepemilikan saham pihak asing di suatu bank harus bertambah, asalkan kinerja bank bisa terangkat dan kembali kencang dengan setoran modal.

“Setor modal bagi bank adalah harus. Kita harus menghargai pemilik bank yang rajin setor modal, selain memperkuat bank, tapi sekaligus menunjukan komitmen dalam membesarkan bank, karena bank itu bisnis jangka panjang yang padat modal,” katanya.

Eko menuturkan, bank asing sendiri telah ada sebelum kemerdekaan Indonesia, atau tepatnya sejak 1746 disebut De Bank Van Leening. Hingga saat ini, total ada 42 Bank Umum di Indonesia yang dalam status kepemilikan asing.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Anung Herlianto mengungkapkan, peran serta komitmen kepemilikan modal perbankan nasional sangat dibutuhkan guna menjaga sustainabilitas atau keberlangsungan kinerja bank di tengah tekanan pandemi covid-19.

Menurutnya, melihat kondisi saat ini, pemilik modal harus senantiasa berkomitmen menjaga kesehatan bank, tak peduli dari asing maupun dalam negeri.

“Kita memonitori dua risiko ini saja risiko likuditias risiko kredit dan bantalan yang cukup memadai dari sisi car. Oleh karena itu, peran kepemilikan modal sangat diperlukan dalam kondisi krisis saat ini,” katanya.(ilm)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Puncak Kasus Covid-19 di Indonesia Belum Bisa Diperkirakan

Published

on

Continue Reading

Ekonomi

BI gelar Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia

Published

on

Continue Reading

Ekonomi

Teten sebut pemulihan ekonomi nasional harus dimulai dari UMKM

Published

on

Continue Reading
Loading...