Connect with us

Olahraga

Karena Bertele Tele, Pangeran Arab Saudi Batal Membeli Klub Newcastle United

Published

on

Realitarakyat.com – Dunia persepakbolaan Inggris sempat heboh gara-gara pangeran Arab Saudi berniat serius membeli klub Newcastle United, tapi setelah berbulan-bulan tak ada finalisasi, akhirnya niat itu dibatalkan.

Pembeli klub itu tergabung dalam sebuah konsorsium atau grup, yang terdiri dari tiga pemodal.

Pemodal terbesar adalah Public Investment Fund (PIF) atau lembaga investasi pemerintah Arab Saudi yang dikendalikan oleh Mohammed bin Salman (MBS), putra mahkota negara kerajaan itu.

Pemodal berikutnya adalah PCP Capital Partners dan Reuben Brothers, keduanya berbasis di Inggris.

Konsorsium pemodal ini dikabarkan sudah menyodorkan tawaran kepada pemilik klub, Mike Ashley, sebesar 391 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,7 trilun (asumsi dolar AS ke rupiah sekitar Rp 14.600).

Sebanyak 80 persen dari angka tersebut berasal dari PIF, sedangkan dua mitranya masing-masing menyetor 10 persen.

Setelah kabar rencana pembelian itu berhembus sejak beberapa bulan lalu, hari ini muncul pernyataan dari konsorsium tersebut bahwa rencana pembelian itu dibatalkan.

“Dengan penghargaan yang dalam kepada masyarakat Newcastle, dan atas pentingnya klub sepakbolanya tersebut, kami sampai pada keputusan untuk menarik minat kami membeli Newcastle United Football Club,” demikian bunyi pernyataan pers grup tersebut, yang dikutip aljazeera.com, Sabtu, (1/8/2020).

Menurut konsorsium tersebut, proses pembelian yang bertele-tele serta ketidakpastian global saat ini, menyebabkan rencana investasi di klub bola tersebut tidak layak lagi.

Proposal pembelian klub tersebut memang sudah dibahas oleh dewan pengurus Liga Premier.
Pembahasan menyangkut kelayakan dalam banyak aspek dari calon pemilik.

Bos Liga Premier Richard Masters bulan lalu sudah mengisyaratkan bahwa rencana pengambilalihan kepemilikan Newcastle United rumit sekali.

“Selama proses yang berkepanjangan tersebut, kesepakatan bisnis kami dengan pemilik klub menjadi kedaluwarsa, dan perhitungan investasi kami sudah tak lagi bisa diteruskan,” tambah pernyataan konsorsium tersebut.

Ada sejumlah hal yang menjadikan proses pembelian itu bertele-tele. Dua hal yang menonjol adalah tuduhan pembajakan hak siar Liga Inggris yang dilakukan Arab Saudi, serta hak asasi manusia.

Perkara hak asasi sangat kuat disuarakan oleh Amnesty International, yang berkedudukan di London, Inggris. Amnesty International sudah mendesak pengurus Liga Utama Inggris untuk menolak proposal dari Arab Saudi tersebut.

Alasannya, karena sang pengendali PIF yakni pangeran Mohammed bin Salman, terlibat dalam sejumlah pelanggaran hak asasi manusia.

Kasus pelanggaran hak asasi manusia yang diduga kuat dilakukan oleh MBS adalah pembunuhan terhadap wartawan koran Washington Post Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018. Jamal Khashoggi adalah warga Arab Saudi yang kerap menyuarakan kritik terhadap pemerintah Arab Saudi.

Ia kemudian bermukim di Amerika Serikat, dan meneruskan kritikannya melalui media.

Untuk keperluan tertentu, ia mengunjungi konsulat Arab Saudi di Istanbul. Ia masuk ke gedung konsulat sendirian, sedangkan pacarnya yang warga Turki menunggu di luar.

Sang pacar akhirnya melapor ke polisi Turki karena Jamal Khashoggi tak kunjung keluar dari gedung konsulat setelah beberapa jam.

Dari penelusuran polisi Turki Jamal dibunuh oleh satu regu yang datang dari Arab Saudi. Mayatnya dihancurkan sehingga tidak menyisakan apapun bagian dari tubuhnya.

Arab Saudi yang terdesak oleh hasil penyelidikan Turki, dan tekanan dari banyak negara, akhirnya melakukan penyelidikan, dan terungkap bahwa regu pembunuh itu diotaki oleh orang dekat MBS.

Masalah utama lainnya yang mengganjal transaksi tersebut adalah tuduhan dari negara tetangga Arab Saudi, yakni Qatar.

Qatar menuding Arab Saudi membiarkan terjadi pelanggaran hak cipta intelektual yang dilakukan oleh jaringan TV kabel berbayar di Arab Saudi, BeoutQ.

Kanal TV berbayar BeoutQ menyiarkan langsung laga Liga Utama Inggris di kawasan Arab, padahal hak siar ada di tangan Qatar.

Masalah itu sampai di tangan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang bulan lalu menyimpulkan Arab Saudi melanggar aturan global tentang hak cipta karena tidak melakukan tindakan apa pun terhadap pelanggaran hak cipta di negerinya.(Din)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Olahraga

Bambang Nurdiansyah: Sikap Tak Pernah Puas Maradona Patut Ditiru

Published

on

Bambang Nurdiansyah (ist/net)
Continue Reading

Olahraga

Piala Arab akan Digelar di Qatar Tahun Depan

Published

on

Presiden FIFA Gianni Infantino (ist/net)
Continue Reading

Olahraga

FIFA Sampaikan Belangsungkawa atas Wafatnya Ricky Yacobi

Published

on

Presiden FIFA Gianni Infantino (ist/net)
Continue Reading
Loading...