Connect with us

pendidikan

KBM Tatap Muka, Guru Beberkan Kekeliruan Nadiem

Published

on

Realitarakyat.com – Keputusan pemerintah memperbolehkan sekolah buka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di zona kuning Covid-19 menjadi isu liar.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) salah satunya, melihat kebijakan tersebut hanya sebagai pengganti dari gagalnya pemerintah menyelesaikan persoalan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang didominasi kendala teknis seperti fasilitas internet dan gawai.

“Persoalan PJJ fase satu dan dua ini sama, belum ada sentuhan atau intervensi dari baik pusat maupun daerah atau negara. Kemendikbud dalam hal ini lemah dalam leading sektor kepemimpinanya Mas Menteri (Nadiem Makarim). Alih-alih mereka tidak sukses memberikan pelayanan PJJ akhirnya zona diaktifkan kembali walaupun masih zona berbahaya, zona kuning,” kata Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Satriwan Salim, Senin (10/08/2020).

Menurutnya, pembukaan sekolah di zona kuning berpotensi menambah klaster baru pandemi virus Corona.

“Ketika sekolah buka di zona kuning, bagi FSGI sekolah itu berpotensi klaster baru, karena zona kuning itu masih ada yang tertular Covid,” ujarnya.

Satriwan juga menyebutkan, keputusan pemerintah salah, sebab dalam satu bulan pembukaan sekolah di zona hijau saja tercatat ada 79 daerah yang melanggar protokol kesehatan di sekolah, tanpa sanksi yang tegas bagi para pelanggar.

“Kami khawatir ketika kemarin saja ada SKB empat menteri yang lalu, tapi ada 79 daerah yang melanggar. Kami sayangkan tidak ada sanksi untuk yang melanggar. Sekarang kan juga sama zona hijau, kuning, dibuka tetapi kemungkinan terjadi pelanggaran bisa terjadi. Bisa saja oranye, merah, dibuka,” ucapnya.

Oleh sebab itu, FSGI meminta seluruh pihak yang berada di zona kuning dan hijau untuk benar-benar menjaga kesehatan anak. Para orang tua, guru, kepala sekolah, dan Satgas Covid-19 setempat harus memikirkan hal ini sebelum membuka sekolah.

“Ketertinggalan satu atau dua semester itu bisa dikejar ketimbang keselamatan nyawa mereka yang tidak bisa dikejar,” kata Satriwan.

Dirinya lanjut menuturkan, kebijakan ini bersifat paradoks karena penyebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi, namun justru kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan semakin dilonggarkan.

“Satu bulan lalu sekolah hanya boleh dibuka zona hijau, itu pun secara bertahap. Tapi sekarang justru di zona kuning pun diperbolehkan,” tandasnya.(ilm)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Pengamat: Pesantren Bagian dari Khazanah Pendidikan Islam di Indonesia

Published

on

Continue Reading

Headline

Rektor IPB Arif Satria Positif Covid-19

Published

on

Continue Reading

Headline

Setelah Viral, Mendikbud Akhirnya Membantah Menhapus Pelajaran Sejarah Dari Kurikulum

Published

on

Continue Reading
Loading...