Connect with us

Headline

Trump Terang terangan Mengaku Ingin Bunuh Presiden Assad, tapi Dicegah Mattis

Published

on

Realitarakyat.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (16/9/2020) mengaku ingin membunuh Presiden Suriah Bashar al-Assad. Namun, dia dicegah James Norman Mattis, yang saat itu menjabat sebagai menteri pertahanan Amerika.

Meski demikian, pemimpin Amerika itu tidak menyesal karena tidak jadi melakukannya.

“Tidak, saya tidak menyesalinya. Saya bisa saja hidup dengan cara itu. Saya menganggap dia (Assad) jelas bukan orang yang baik,” katanya kepada Fox News.

“Saya memiliki kesempatan untuk membunuhnya jika saya mau dan (Menteri Pertahanan James) Mattis menentang. Menentang sebagian besar dari hal itu,” lanjut Trump yang menganggap Mattis sebagai seorang jenderal yang sangat dilebih-lebihkan.

Mattis mengundurkan diri dari jabatannya di Pentagon pada Desember 2018, sehari setelah Trump mengumumkan bahwa dia akan menarik pasukan AS dari Suriah. Mattis sangat menentang rencana penarikan tentara tersebut.

Dalam surat pengunduran dirinya, Mattis saat itu menjelaskan bahwa dia membuat keputusan karena Presiden Trump memiliki hak untuk memiliki menteri pertahanan yang pandangannya lebih selaras dengan pandangannya sendiri tentang berbagai masalah, termasuk komitmen terhadap aliansi AS dan perang melawan ISIS.

Wawancara Trump dengan Fox News terjadi dua tahun setelah Trump menepis tuduhan bahwa dia mendukung pembunuhan terhadap Assad. Saat itu dia bahkan mengklaim tidak pernah mempertimbangkan pembunuhan terhadap presiden Suriah.

“Tidak semuanya. Tidak, buku itu fiksi. Saya mendengar di suatu tempat di mana mereka mengatakan pembunuhan Presiden Assad oleh Amerika Serikat. Buku ini adalah fiksi total, sama seperti yang dia tulis di masa lalu tentang presiden lainnya,” kata Trump dalam briefing Gedung Putih pada September 2018.

Dia merujuk pada buku karya reporter veteran Amerika, Bob Woodward, yang berjudul “Fear: Trump in the White House” dan dirilis awal tahun 2018.

Buku itu, secara khusus, mengklaim bahwa Trump telah memerintahkan Pentagon untuk mengatur pembunuhan terhadap Assad setelah serangan senjata kimia di provinsi Idlib, Suriah, pada 4 April 2017 yang menewaskan sekitar 80 warga sipil dan melukai 200 lainnya.

Oposisi Suriah dan sejumlah negara Barat menuduh pasukan pemerintah Assad yang melakukan serangan itu, namun Damaskus membantahnya.

Assad menekankan bahwa pemerintahnya tidak pernah menggunakan senjata pemusnah massal, termasuk senjata kimia, terhadap rakyat Suriah.

Serangan senjata kimia di Idlib itulah yang digunakan sebagai dalih untuk serangan rudal AS terhadap Pangkalan Udara Ash Sha’irat, Suriah, pada 6 April 2017.

Trump menggambarkan serangan itu sebagai tanggapan atas insiden Idlib. Sedangkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengecam serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional.(Din)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

India Disarankan Persenjatai Warga Desa di Perbatasan untuk Cegat Tentara China

Published

on

Continue Reading

Daerah

1.620 Ahli Waris Korban Tsunami Sulteng Terima Bantuan Rp24,3 M dari Kemensos

Published

on

Continue Reading

Headline

Latihan Militer China Bukan Peringatan, Tapi untuk Ambil Alih Taiwan

Published

on

Continue Reading
Loading...