Connect with us

Headline

Penampungan Ilegal Digerebek, Calon Pekerja Ngaku Bayar Rp52 Juta untuk ke Luar Negeri

Published

on

Realitarakyat.com – Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menemukan sebanyak 25 calon pekerja migran Indonesia (CPMI), saat menggerebek tempat penampungan ilegal di Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Sabtu (17/10/2020) malam.

Salah satu calon pekerja mengaku sudah menyetorkan uang Rp42 juta sampai Rp52 juta kepada pihak sponsor untuk berangkat ke luar negeri.

Kepala BP2MI Benny Rhamdan menjelaskan, para calon pekerja itu sudah dijanjikan akan diberangkatkan ke negara Polandia dan Taiwan untuk bekerja. Namun, sampai saat ini jadwal keberangkatan mereka masih belum diketahui. Padahal para CPMI ini telah menunggu selama dua bulan hingga satu tahun lebih.

“Mereka rata-rata diminta uang Rp42 juta sampai Rp52 juta. Ini posisinya mereka masih dalam tempat penampungan ilegal. Kami khawatirkan ada permintaan-permintaan lain ketika mereka sudah di negara penempatan,” kata Benny, saat dihubungi, Minggu (18/10/2020).

Benny menilai, sponsor yang merekrut para CPMI ini diduga sengaja mengambil keuntungan dengan meminta sejumlah uang kepada CPMI. Selain itu, sponsor juga sudah menempatkan para CPMI tersebut, di tempat penampungan ilegal dengan kondisi tidak layak.

“Kami prihatin, tempat penampungan yang katakan ilegal, kondisinya tidak layak dan kotor, berbau,” ujarnya.

“Intinya adalah kami ingin membuktikan, ada upaya-upaya pengiriman CPMI ke negara tempat penempatan, selalu ada pihak-pihak yang ingin mempermudah proses. Kemudian melakukan penghematan atas biaya yang harus dikeluarkan perusahaan, tapi dengan cara mengambil keuntungan dari CPMI,” kata Benny lagi.

Dia memastikan bakal memeriksa perusahaan yang meminta pihak sponsor, untuk merekrut CPMI. Apabila perusahaan itu tidak berizin, maka sponsor yang mengelola tiga tempat penampungan ilegal tersebut bakal diproses lebih lanjut.

“Saudara Titin Marsinah ini (sponsor) selalu mendapat order atas nama Lisa, dari PT Lintas Cakra Buana. Disistem kami yang ada hanya PT Lintas Cakrawala Buana, dan bukan berada di Sidarja. Tapi di Jakarta. PT itu tidak aktif,” ucapnya.

Sementara itu di tempat yang sama, Titin mengaku kalau dirinya hanya memfasilitasi para CPMI untuk menunggu proses sebelum mereka diberangkatkan.

“Untuk TKL ini saya baru satu tahun. Kalau TKW sudah dari tiga tahun,” ucap Titin.(Ilm)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Bamsoet: Peta Jalan Vaksinasi Harus Selaras dengan Program Pemulihan Ekonomi

Published

on

Continue Reading

Headline

BMKG : Jabodetabek Waspada Hujan Disertai Petir

Published

on

Continue Reading

DPD

Peringatan Hari Santri, Senator dr. Jihan Nurlela Desak Pemerintah Terbitkan Aturan Turunan UU Pesantren

Published

on

Continue Reading
Loading...