Connect with us

Headline

Gara-Gara Buruknya Komunikasi Publik Jokowi Tegur Kabinetnya, Ini Komentar Pengamat

Published

on

Realitarakyat.com – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengakui, jajaran Kabinet Indonesia Maju mendapatkan teguran dari Presiden Jokowi terkait buruknya komunikasi publik, utamanya dalam menyampaikan subtansi UU Cipta Kerja kepada publik.

Menanggapi hal ini, analis politik asal UIN Jakarta Adi Prayitno menilai, teguran itu telah mengonfirmasi tudingan publik selama ini bahwa komunikasi politik pemerintah memang buruk.

“Terutama soal UU Omnibus yang terkesan merasa paling benar sendiri. Kritik dari luar dianggap hoaks dan tak beralasan,” kata Adi saat dihubungi, Kamis (22/10/2020).

Padahal, menurut Adi, kritikan publik banyak yang bagus. Terutama kritik dari pakar, guru besar, peneliti, dosen, mahasiswa, dan LSM yang sebenarnya bisa dikapitalisasi menjadi hal yang konstruktif.

Sayangnya, menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini, kritik-kritik itu ditafsirkan berbeda oleh penguasa yang kemudian membuat masyarakat takut dan khawatir akibat kritiknya itu dianggap menyerang penguasa.

“Masak iya kritik dari kaum terpelajar dituding hoaks. Kritik juga tujuannya untuk menunjang perbaikan bangsa dan negara,” tandas Adi.

Diberitakan sebelumnya, Moeldoko mengakui, jajaran Kabinet Indonesia Maju mendapat teguran dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait buruknya komunikasi publik. Terutama terkait dengan substansi dari Undang-Undang (UU) Cipta kerja (Ciptaker).

“Kami semuanya ditegur oleh Presiden bahwa komunikasi publik kita sungguh sangat jelek,” kata Moeldoko di kantornya, Rabu (21/10/2020).

Dia mengatakan, teguran Presiden dan berbagai masukan dari luar akan jadi bahan perbaikan. “Untuk itu, ini sebuah masukan dari luar maupun teguran dari Presiden, kita segera berbenah diri untuk perbaikan ke depan dengan baik,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Moeldoko mengakui bahwa kondisi saat ini media sosial berkembang dengan luar biasa. Dia menuturkan bahwa terkadang kewalahan menghadapi hoaks dan disinformasi.

“Kita memasuki sebuah disruption. Sebuah situasi yang seperti saat ini di mana media sosial bertumbuh luar biasa. Kadang-kadang melampaui imajinasi kita. Dan di situlah kita kadang-kadang kewalahan menghadapi bertumbuhnya disinformasi dan hoaks,” tuturnya.(ilm)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Kecam Aksi Teror di Sigi, JK: Aparat Harus Tumpas Sampai ke Akarnya

Published

on

Continue Reading

Headline

Ketua MPR RI : Masyarakat Madani Harus Diperjuangkan Seluruh Elemen Bangsa

Published

on

Continue Reading

Headline

KSAD Bahas Penyediaan Senjata dan Latihan Militer dengan Perwakilan US Army

Published

on

Continue Reading
Loading...