Connect with us

Metropolitan

Dukung Belajar Tatap Muka di 2021, Dewan DKI Sebut Sekolah dan Anak Satu Kesatuan

Published

on

Zita Anjani/Net

Realitrakyat.com – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani mendukung langkah pemerintah memperbolehkan sekolah tatap muka di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) mulai 2021. Zita menyebut sekolah dan anak merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

“Sebagai unsur pimpinan DPRD DKI Jakarta yang fokus terhadap pendidikan, saya sangat mendukung keputusan ini. Saya masih tetap dengan pendirian yang sama bahwa sekolah dan anak-anak adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” kata Zita melalui keterangan tertulisnya, Minggu (22/11/2020).

Zita menaruh catatan penting saat pembelajaran jarak jauh dilakukan selama kurun 8 bulan ini. Zita mengatakan banyak kasus terjadi selama ini seperti siswa yang bunuh diri atau sang ibu yang tega menghabisi anaknya karena emosi akibat belajar daring.

“Hal itu terbukti ketika anak menjadi korban setelah PJJ diterapkan. Seperti kasus seorang siswa di Kalimantan yang bunuh diri akibat stres tugas menumpuk dan juga kasus seorang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri akibat emosi sekolah daring,” ungkapnya.

Politikus PAN ini juga menjabarkan, berdasarkan data i-Ready Digital Instruction and Assessment Software, 90 persen masyarakat berpendapatan tinggi yang mendominasi akses belajar daring. Sedangkan untuk orang yang berpendapatan rendah hanya diakses oleh sekitar 60 persen orang.

“Ini membuktikan bahwa PJJ tidak hanya berhasil merenggut nyawa anak, tetapi juga telah mendiskriminasi pendidikan kita,” imbuhnya.

Zita meyakini bahwa sekolah tidak akan menjadi klaster baru penularan Corona. Selain itu dari penelitian Irlandia, sebut Zita, dari 56.000 siswa yang dites, hanya ditemukan 2 kasus anak yang menulari orang tua.

“Penelitian di Irlandia membuktikan bahwa dari 56.000 siswa di sekolah yang dites, hanya ditemukan 2 kasus di mana anak menularkan ke orang tuanya, selebihnya adalah kasus orang tualah yang menularkan ke anak. Oleh karenanya, saya percaya bahwa sekolah tidak akan menjadi klaster, Gugus Tugas tidak perlu khawatir soal itu,” katanya.

Pemerintah diharapkan menyediakan fasilitas protokol kesehatan di sekolah. Zita juga berharap pemerintah dapat membagi rata fasilitas tersebut, baik ke sekolah negeri maupun swasta.

“Saya berharap pemerintah dukung sekolah-sekolah dengan membagikan masker gratis, dan menyediakan fasilitas lain untuk menopang penerapan protokol kesehatan di sekolah. Hal itu akan mempermudah sekolah menerapkan protokol kesehatan dengan baik sebagaimana Jepang, Australia, dan Korea Utara membuka sekolah. Terutama untuk sekolah swasta yang kondisi keuangannya sangat memprihatinkan,” katanya.

Atas dasar itulah, Zita ingin masyarakat Indonesia lebih fokus terhadap hal yang lebih memiliki substansi yang penting. Sebab, sejatinya, pendidikan adalah kunci untuk membenahi negara ini.

“Saya berpikir sudah saatnya Indonesia memfokuskan energi ke hal yang lebih substansi. Jangan sampai kita terlarut dalam dinamika konflik antarkelompok. Jika pemerintah ingin benahi Tanah Air, maka mulailah dari pendidikan,” tandasnya.[prs]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

BMKG : Jabodebek Potensi Hujan, Tangerang Berawan

Published

on

Continue Reading

Kesehatan

Jika Tolak Tes Usap, Warga DKI Diancam Denda hingga Rp7 juta

Published

on

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahnad Riza Patria (ist/net)
Continue Reading

Metropolitan

Anies Minta Masyarakat Ikuti Aturan Pandemi Covid-19

Published

on

Continue Reading
Loading...