Connect with us

Opini

Berlayar Menembus Zaman, Obituari Kodrat Wahyu Dewanto

Published

on

Oleh: Ricky Rachmadi

 

MENGENANG MENDIANG WARTAWAN SENIOR SUARA KARYA

Wartawan senior Suara Karya, Kodrat Wahyu Dewanto

SAYA sengaja menuliskan kembali judul buku yang turut disusun mendiang Kodrat Wahyu Dewanto (KWD) pada 2005. Dokumentasi sebuah catatan sejarah yang dirangkainya bersama tim redaksi Harian Umum Suara Karya (SK) sebagai pertanda kebangkitan kembali surat kabar nasional monumental itu.

KWD, wartawan senior SK, yang berpulang bertepatan dengan perayaan Natal, 25 Desember 2020. Hari yang semestinya ia rayakan bersama keluarga dan kerabatnya. Pada momen di mana ia justru kembali ke hadirat-Nya.

Rupanya, pandemi Covid-19 telah mengakhiri hidupnya di dunia, sosok yang di dunia jurnalistik itu memiliki banyak kenangan.

Kodrat telah menjalankan “kodrat”-nya. Melintasi dimensi ruang dan waktu, ia berlayar menembus zaman menuju peristirahatan terakhir: Rest In Peace (RIP).

Kodrat Wahyu Dewanto, sosok egaliter yang kerap menyapa “bung” dan memanggil “broer” kepada para wartawan di ruang-ruang redaksi. Newsroom selalu kaya dengan ide-ide jurnalisme yang mewarnai halaman depan koran Suara Karya sebagai suguhan utama untuk para pembaca.

Bersama KWD, kami turut membangun harian yang banyak melahirkan banyak tokoh jurnalis nasional ini. Pemimpin Umum dijabat Theo L. Sambuaga yang kala itu juga Ketua Bidang Perhubungan, Telekomunikasi, dan Informasi DPP Partai Golkar.

Dipercaya sebagai pemimpin redaksi (pemred), saya berkolaborasi dengan sederet nama besar yang terlihat dalam susunan redaksi, seperti Pemimpin Perusahaan Airlangga Hartarto yang kini Ketua Umum DPP Partai Golkar dan Menko Perekonomian, serta pakar jurnalistik dan mantan anggota Dewan Pers, almarhum S Leo Batubara.

Juga dua mantan pemred “duo Bambang” yakni, Bambang Sadono (mantan anggota DPR dan DPD) dan Bambang Soesatyo (mantan ketua DPR RI yang kini ketua MPR RI).

Tak ketinggalan wartawan senior Djunaedi Tjunti Agus, Asep Yayat, Marcyanus Donny, Rene F Manembu, Yudhiarma MK, Moh. Hasyim, Agoes Sofyan, Jimmy R, Singgih, Kentos, dan lain-lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Suara Karya adalah salah satu surat kabar harian cukup fenomenal di negeri ini. Edisi perdananya diterbitkan pada 11 Maret 1971. Pada awal milenium, dengan mengangkat moto “Suara Rakyat Membangun”, SK menggebrak dengan logo mirip lambang media ternama dunia.

Surat kabar ini pernah terbit 25 halaman setiap hari dengan menggunakan tiga alamat sekaligus, alamat redaksi utama di Jalan Tanah Abang III / 21 Jakarta, Kantor Tata Usaha di Jalan Bangka 11/2 Jakarta, dan alamat redaksi malam di Jalan Tanah Abang III / 17 Jakarta.

Dengan mengantongi Surat Izin Terbit No 01096 / SK / Dir PP / SIT / 1971. “Suara Karya, bukan milik Golkar. Tak ada kekuatan sosial politik yang memiliki pers,” kata Menteri Penerangan Harmoko pada September 1995.

Sepuluh tahun kemudian, Pemimpin Perusahaan SK 2005-2006, Edward Soeryadjaya, menegaskan lagi prinsip itu dalam acara Peluncuran Kembali Suara Karya pada 30 Maret 2005 di Jakarta.

Perhelatan tersebut dihadiri oleh jajaran petinggi Partai Golkar, termasuk Jusuf Kalla selaku Ketua Umum dan sejumlah pinisepuh seperti Agung Laksono dan Akbar Tandjung.

Dalam susunan pengurus Suara Karya, JK, Agung Laksono dan Akbar Tandjung tampil dalam susunan dewan redaksi.

Andil Partai Golkar dalam mengontrol sepak terjang surat kabar ini adalah fakta tak terbantah. Sejatinya, Suara Karya pada masa awalnya memang menjadi pengabar resmi organisasi politik yang paling digdaya. Pada era 1970-an, berkumpullah kader-kader Golkar yang ingin menerbitkan media dengan misi menyukseskan pembangunan nasional. Mereka menggagas sebuah surat kabar bernama Suara Karya. Para perintis itu antara lain Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani, dan Sapardjo.

Para pegiat media ini adalah juga aktivis Golkar seperti Sumiskum, Djamal Ali, A. Rahman Tolleng, Hendro Budijanto, Midian Sirait, Sudjati, Cosmas Batubara, David Napitupulu, AR Rangkuti, Pintor Situmorang, hingga nama legendaris Sayuti Melik yang duduk di jajaran dewan redaksi.

Sempat bergabung juga jurnalis kawakan almarhum Djafar Husin Assegaff, yang pada 1972 ditunjuk sebagai Pemimpin Redaksi Suara Karya. Mantan Wakil Presiden RI, Sudharmono pun pernah terlibat sebagai simulasi Suara Karya.

Mengenai kesediaannya memimpin keredaksian Suara Karya, Assegaff berujar, “Saya masuk ke Suara Karya sesudah meminta izin kepada Mochtar Lubis, bos Indonesia Raya”. Dia setuju dengan alasan pembaruan dunia politik Indonesia diperlukan dan peluangnya pada masa itu memang hanya bisa lewat Golkar.

Assegaff adalah redaktur politik Indonesia Raya (1956-1959), wakil pemimpin redaksi surat kabar Abadi (1959-1960), dan kembali ke Indonesia Raya sebagai redaktur pelaksana pada 1968 sebelum memangku jabatan Pemimpin Redaksi Suara Karya hingga 1990. Ia pernah berkarier di LKBN Antara, Pemred Majalah Warta Ekonomi dan Wakil Pemimpin Umum Media Indonesia.

Sementara itu, dalam pidatonya pada acara Peluncuran Kembali Suara Karya, 30 Maret 2005, Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar ketika itu, mengatakan, media harus menentukan sikap dan tidak mengekor media pada lain. Khusus untuk Suara Karya, dikutip dari Media Indonesia online edisi 2 Juni 2007, JK mengingatkan agar pandai-pandai dalam menyampaikan sikap partai, agar juga bisa dibaca oleh orang di luar Partai Golkar.

Alhamdulillah, JK yang juga Wapres RI berkenan datang ke kantor redaksi Suara Karya di Gedung AKA, Jakarta Selatan, saat saya mendapat amanah sebagai pemred. Dalam sejarah, Jusuf Kalla adalah satu-satunya Ketua Umum yang juga Wapres yang berkenan berkunjung dan berdiskusi di newsroom SK.

“Berlayar Menembus Zaman”. Saya menuliskan kembali judul buku yang turut disusun almarhum Kodrat Wahyu Dewanto pada tahun 2005. Dokumentasi sebuah catatan sejarah yang dirangkainya bersama tim redaksi Harian Umum Suara Karya sebagai petanda kebangkitan kembali surat kabar nasional monumental itu.

KWD, wartawan senior HU SK, telah berpulang. Pada momen di mana ia justru kembali ke hadirat-Nya.

Pandemi Covid 19 mengakhiri kiprahnya di dunia jurnalistik dengan banyak kenangan. Kodrat telah menjalankan “kodrat”-nya. Melintasi dimensi ruang dan waktu, ia berlayar menembus zaman menuju peristirahatan terakhir: Rest In Peace (RIP). Selamat jalan Broer. ***

Penulis adalah: pernah menjadi Pemimpin Redaksi HU Suara Karya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

Ikhtiar Kemendikbud Atasi Problem Pendidikan di Masa Pandemi

Published

on

Continue Reading

Opini

Pentingnya Empat Pilar dalam Mempererat Kebhinekaan Indonesia

Published

on

Continue Reading

Kesehatan

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Published

on

ilustrasi (ist/net)
Continue Reading
Loading...