Peneliti CSIS: Presidensi G20 Dapat Benahi Rantai Pasokan Pangan

  • Bagikan
Peneliti CSIS: Presidensi G20 Dapat Benahi Rantai Pasokan Pangan
Peneliti ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Dandy Rafitrandi /net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Peneliti ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Dandy Rafitrandi menyatakan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia menunjukkan bahwa Presidensi G20 yang dipegang Indonesia dapat berperan untuk membenahi rantai pasokan pangan global.

Dandy Rafitrandi dalam acara media briefing “Memaknai lawatan Presiden Joko Widodo ke Eropa”, di Jakarta, Jumat (1/7/2022), menjelaskan kedatangan Presiden ke Ukraina dan Rusia selain berusaha membuka komunikasi di antara keduanya, juga berusaha mencari solusi terhadap bibit, bahan pangan, serta pupuk yang selama ini dipasok oleh Rusia dan Ukraina.

Dengan kunjungan tersebut, lanjutnya, diharapkan ke depannya juga dapat membuat berbagai bahan terkait sektor pangan yang selama ini dipasok oleh Rusia dan Ukraina kembali terintegrasi dengan rantai pasokan dunia.

Apalagi, Presiden Rusia, Vladimir Putin diberitakan telah memberikan jaminan keamanan pasokan pangan dan pupuk dari Ukraina dan Rusia di hadapan Presiden Jokowi.

“Yang harus kita putuskan sekarang adalah bagaimana menjamin rantai pasokan terutama pangan, meningkatkan komitmen dan juga memobilisasi resources (sumber daya) yang kita punya di G20,” kata Dandy.

Dandy menambahkan Pemerintah Indonesia harus memiliki satu agenda jangka pendek mengamankan pasokan pangan maupun pupuk. “Tahun ini kita berbicara akses makanan, tapi tahun depan kita akan berbicara kehilangan makanan tersebut,” ucap Dandy.

Dandy juga menjelaskan Pemerintah Indonesia harus melibatkan negara-negara G20 dalam isu ini salah satunya adalah India karena mereka adalah tuan rumah G20 berikutnya.

“Kita juga harus tahu bahwa pentingnya membawa India on board untuk memahami isu pangan dan juga energi yang juga sangat penting dan juga memperlihatkan negara-negara berkembang juga memiliki andil untuk bisa mendamaikan atau menurunkan tensi antara Ukraina dan Rusia,” kata Dandy.

Dandy menambahkan juga selain pangan dan pupuk pemerintah Indonesia dan G20 juga bisa mulai memfokuskan agenda terkait dengan bantuan kemanusiaan terutama untuk pendanaan rekonstruksi di Ukraina.

Sebagaimana diwartakan, pemerintah akan memperkuat ketahanan pangan nasional dan menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi krisis pangan global, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Rapat kali ini merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden terkait dengan ketersediaan pangan strategis, yang sampai bulan Juli ini relatif aman, baik dari sisi pasokan maupun stabilitas harga,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis (30/6), terkait pembahasan dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) tentang Kebijakan Pangan.

Rakortas tersebut dihadiri Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan Nasional, Kepala BNPB, Dirut Bulog, serta sejumlah pimpinan kementerian/lembaga membahas kondisi terkini terkait dengan situasi pangan nasional dan antisipasi krisis global di bidang pangan, serta berbagai upaya yang akan dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan nasional. (ant/ndi)

  • Bagikan