Pengamat Merasa Aneh Komisi III DPR Merasa Paling Layak Terima Laporan Analisis PPATK

  • Bagikan
Pengamat Merasa Aneh Komisi III DPR Merasa Paling Layak Terima Laporan Analisis PPATK
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus /net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Kisruh transaksi mencurigakan Rp349 triliun diwarnai dengan ketegangan antara Menko Polhukam Mahfud MD dengan Komisi III DPR.

Kisruh ini melebar dan terkesan menjadi personal lantaran Mahfud menantang trio anggota Komisi III, yakni Benny K Harman, Arteria Dahlan dan Arsul Sani untuk hadir dalam rapat dengar pendapat pada Rabu (29/3/2023) nanti.

Peneliti Formappi, Lucius Karus mengaku bisa memahami kegeraman Mahfud. Malahan dia curiga Komisi III DPR merasa paling layak menerima laporan hasil analisis PPATK. Pasalnya, sejauh ini tidak terlihat kontribusi komisi bidang hukum itu dalam membongkar transaksi tak wajar pada instansi kementerian.

“Sekalian saya juga menantang Komisi III, karena mereka mengaku sebagai pihak yang tepat untuk menerima laporan hasil analisis dari PPATK, apa saja yang sudah ditindaklanjuti Komisi III selama ini setelah menerima laporqn PPATK?” kata Lucius,di Jakarta, Senin (27/3/2023).

Lucius menilai argumen Komisi III yang mendalilkan DPR bersama presiden menjadi lembaga berwenang menerima hasil analisis badan intelijen keuangan negara sangat lemah. Atas dasar ini dia menganggap wajar apabila Mahfud secara terbuka mengajak untuk berdebat.

Lucius malah mengapresiasi sikap Mahfud yang menantang Komisi III DPR melalui pernyataan terbuka.

“Mahfud berani menantang DPR tentu sudah sewajarnya. Posisi pemerintah khususnya menteri memang bukan bawahan DPR, makanya menteri yang mewakili pemerintah disebut mitra kerja,” ujarnya.[prs]

  • Bagikan