Kunker ke Klaten, Puan Tinjau Program Penanganan Stunting

Realitarakyat.com – Ketua DPR RI Puan Maharani melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke Desa Jonggrangan, Klaten Utara, Jawa Tengah, untuk meninjau program penanganan stunting. Dalam kunjungannya, ia juga memberikan 2.500 paket bantuan kepada balita untuk mencegah risiko stunting yang masih banyak terjadi di Indonesia.

Tiba di Desa Jonggrangan, Klaten, Sabtu (2/9) sore, Puan disambut ribuan warga yang sudah menunggu di lapangan desa. Saat menyampaikan pidato di Lapangan Desa Jonggrangan, Puan memanggil pasangan yang hendak menikah dalam waktu dekat.

Acara ini memang dihadiri para calon pengantin untuk mendengarkan sosialisasi mengenai pencegahan stunting pada anak.

Selain itu, turut hadir pula Kader Posyandu, Kader Kesehatan, Kader Posyandu Balita, dan Kader Posyandu Remaja se-Klaten. Sambil memberikan edukasi tentang persiapan gizi bagi calon anak, Puan bertanya kepada salah satu pasangan calon pengantin bernama Tyo.

“Tanggal berapa nikahnya nanti?” tanya Puan kepada Tyo

“Tanggal 17 September nanti, Bu,” jawab Tyo.

“Sudah mengerti cara pencegahan stunting kalau menikah nanti?” Puan kembali bertanya.

“Sudah ikut program lengkap calon pengantin,” kembali Tyo menjawab pertanyaan.

Dalam rangka menyambut kebahagiaan Tyo dan calon istrinya, Puan lalu berniat memberikan hadiah sebagai bentuk ucapan selamat atas pernikahan keduanya. Mendengarkan tawaran Puan, Tyo pun memasang ekspresi kaget.

“Calon istri saya PPPK, belum dikasih cuti untuk bulan madu ke Malang,” jawab Tyo seraya diikuti gelak tawa ribuan hadirin yang memenuhi Lapangan Desa Jonggrangan.

“Oke, nanti saya kasih tiket kereta ke Malang. Dipakai kalau sudah boleh cuti,” tutur Puan disambut tepuk tangan seluruh pengunjung.

Setelah berbincang dengan calon pengantin, Puan pun menyampaikan sejumlah pesan kepada peserta acara yang hadir. Ia menekankan pentingnya edukasi tentang penanganan stunting yang diberikan sejak sebelum calon pengantin menikah.

Dengan begitu, para calon pengantin akan mempersiapkan asupan gizi yang baik mulai dari masa kehamilan hingga 1.000 hari setelah kelahiran anak

“Tolong perhatikan yang 1.000 hari pertama untuk asupan gizi anak-anaknya. Perhatikan juga MPASI atau makanan pendamping ASI. Jangan ragu untuk tanya-tanya ke Posyandu dan Puskesmas untuk tahu bagaimana supaya gizi anak tetap terpenuhi,” pesan Puan.

Puan juga mengingatkan akan pentingnya peran keluarga sebagai titik awal perjalanan kesehatan seorang anak. Ia menyebut, orang tua wajib memiliki pengetahuan tentang pembangunan kesehatan anak dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Jadi kalau Indonesia mau bebas stunting maka harus dimulai dari keluarga yang sehat. Keluarga yang asupan gizinya terpenuhi dan menjalani gaya hidup sehat,” ungkap Mantan Menko PMK RI itu.

“Oleh karena itu pembangunan kesehatan masyarakat harus dimulai dari pemenuhan gizi Ibu hamil dan anak. Pemenuhan gizi seimbang dalam keluarga. Serta pola hidup bersih dan sehat,” sambungnya.

Puan menambahkan, gejala awal anak kekurangan gizi bisa terlihat dari jumlah berat badan. Akibat asupan gizi yang kurang seimbang, tumbuh kembang anak pun ikut terganggu.

Apalagi, di Kabupaten Klaten terdapat 1,3 juta jiwa yang di antaranya terdiri dari 57.611 balita di mana dari jumlah tersebut terdapat 7.631 balita atau 14,3% berisiko stunting. Puan pun berharap tidak menemukan lagi kasus stunting di Klaten mengingat daerah tersebut menjadi nomor enam terbaik se-Jawa Tengah dalam penanganan stunting.

“Pada usia ini asupan gizi yang baik akan memberikan peluang untuk berkembangnya potensi diri yang optimal. Sebaliknya, gagal gizi pada 1.000 HPK akan mengakibatkan gagal kembangnya potensi diri, baik secara fisik dan tingkat kecerdasan. biasanya ditandai dengan stunting atau kerdil,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Puan juga mengungkap meski dirinya sibuk menjalani peran sebagai ibu pekerja, ia tidak pernah luput untuk menyediakan makanan yang bergizi bagi anak-anaknya. Sebagai seorang ibu, ia cukup tegas mengenai asupan makanan yang bergizi bagi buah hatinya.

“Saya juga ibu. Mau wara wiri kemana-mana di rumah harus ada makanan. Padahal sudah ada asisten rumah tangga, tapi kalau nggak ada makanan di rumah tetap nyarinya saya. Padahal anak saya itu sudah lulus kuliah,” terang Puan.

“Ini yang harus kita perhatikan bagaimana dari kecil bisa dapat asupan makanan bergizi. Jangan dikasih mie instan terus. Beda hari cuma beda rasa. Hari ini mie rebus besok mie goreng,” tambahnya.

Puan pun berbicara soal dibutuhkannya peran seluruh stakeholder agar upaya penanganan stunting bisa menyeluruh ke seluruh wilayah Indonesia. Dengan begitu, target Indonesia Emas 2045 akan tercapai.

“Menjadi tugas kita semua untuk memastikan kesehatan anak-anak Indonesia sejak dari dalam kandungan, ketika balita, dan saat mereka bertumbuh dewasa,” ujar Puan.

Selain memberikan bantuan ke Desa Jonggrangan, Puan juga mendatangi Desa Nglinggi di Jawa Tengah. Ia memberikan bantuan kepada sejumlah keluarga serta ibu-ibu hamil agar bisa memberikan asupan gizi yang seimbang bagi anak atau calon bayi mereka.

Di lokasi ini, Puan tampak disambut anak-anak kecil. Bahkan, Puan sempat berinteraksi dan terlihat bahagia saat bersama anak-anak tersebut.

Desa Nglinggi merupakan salah satu dari 12 desa layak anak di Kecamatan Klaten Selatan. Pemda Klaten bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjaga betul agar anak-anak di desa ini tidak mengalami stunting.

Seusai berinteraksi dengan anak-anak, Puan lalu meninjau posyandu anak di Desa Nglinggi. Ia mendatangi meja petugas untuk melihat pengukuran berat badan anak dan memantau perkembangan tumbuh kembang anak.

Di Posyandu Anak Desa Nglinggi, bukan hanya anak kecil saja yang dipantau kesehatannya. Tapi juga anak remaja yang dipantau kesehatan dan reproduksi mereka.

Puan juga bertemu dengan beberapa ibu hamil yang sedang mendapat penyuluhan dan tambahan makanan untuk pencegahan stunting. Tak cukup sampai situ, ia pun menyerahkan paket goodie bag untuk warga dan paket bantuan gizi anti stunting untuk unit posyandu.

Sementara Bupati Klaten Sri Wahyuni mengatakan bahwa di daerahnya memiliki program bertajuk ‘Piringku’. Pada program ini, setiap menu makanan yang disiapkan harus memikirkan gizi seimbang untuk ibu-ibu hamil dengan hanya mengeluarkan biaya Rp 17.500 per piring.

“Kami berterima kasih atas bantuan yang dibawa Ketua DPR RI untuk bayi-bayi di Klaten agar terhindar dari stunting,” tutup Sri.

Sebagai informasi, dalam kunjungan kerjanya di Klaten, Puan didampingi oleh Bupati Klaten Sri Wahyuni, Bupati Sukoharjo Etik Suryani, serta sejumlah anggota DPR RI yakni Bambang Wuryanto, Abidin Fikri, Dede Indra, dan Paramitha Widya Kusuma.[prs]