TPID Surabaya Jaga Ketersediaan Pangan Antisipasi Dampak El Nino

  • Bagikan
El Nino
Ilustrasi /net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Surabaya, Jawa Timur, terus berupaya menjaga ketersediaan pangan guna mengantisipasi dampak fenomena iklim El Nino.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, mengatakan TPID Surabaya telah mempersiapkan langkah-langkah mulai dari menjaga harga beras Bulog, menyubsidi BBM transportasi untuk mengangkut barang dari daerah penghasil bahan pangan.

“Kami menjaga pangan adalah dengan mensubsidi harga Bulog tidak berubah sampai di tempat pedagang jualan. Selain itu, menjalin kerja sama dengan daerah-daerah lain,” katanya, Minggu (3/9).

TPID bertujuan untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pangan dan mengendalikan inflasi. Sedangkan anggota TPID terdiri dari jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, lembaga keuangan serta gabungan kelompok tani (gapoktan).

TPID merupakan penjabaran dari Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2017 tentang Tim Pengendalian Inflasi dan Peraturan Menteri Perekonomian Nomor 10 Tahun 2017 tentang Mekanisme dan Tata Kerja Tim Pengendalian Inflasi Pusat.

Eri lantas menerangkan Pemkot Surabaya melalui TPID tidak hanya memantau harga beras saja, tetapi juga komoditas pangan lainnya yakni menjaga harga dan ketersediaan 20 bahan pokok seperti cabai, bawang merah, bawang putih, gula, telur, dan ayam.

“Insya Allah aman. Kalau ketersediaannya aman, tapi kalau harga dari sananya sudah naik, kami tidak bisa mensubsidi lainnya kecuali untuk transportasi,” ucap Cak Eri panggilan akrabnya.

Tak hanya memastikan ketersediaan stok pangan, Cak Eri menyebut jika setiap masing-masing rukun warga (RW) di Kota Surabaya telah menyiapkan sumur pemadam kebakaran (PMK) guna mengatasi terjadinya kebakaran akibat dampak kekeringan dari fenomena iklim El Nino.

“Karena kekeringan hubungannya kebakaran. Maka jangan sampai warga menyalakan api di alang-alang,” ujarnya.

Bahkan, lanjut dia, pihaknya sudah tidak mengizinkan penggunaan air tanah. Dengan lingkungan saat ini, air tanah tidak boleh berkurang maka tidak boleh menggunakan pemanfaatan air tanah.

“Kami juga memperbanyak ruang terbuka hijau untuk penyerapan air,” kata Cak Eri.

  • Bagikan