“Yang ingin kami majukan adalah solusi dua negara yang permanen,” kata Fidan kepada wartawan di Washington, Sabtu (9/12).

Fidan, bersama rekan-rekannya yang ditugaskan dalam pertemuan puncak luar biasa Arab-Islam bulan lalu, mengunjungi AS untuk mendesak gencatan senjata di Jalur Gaza, yang diserang tanpa henti oleh Israel selama lebih dari dua bulan.

“Masalahnya saat ini lebih besar dibandingkan dengan masalah Israel dan Palestina sendiri.”

“Oleh karena itu, kami pikir pemerintah-pemerintah di kawasan harus menyelesaikan masalah ini dan harus bertindak secara bertanggung jawab,” kata Fidan.

Dia menggarisbawahi perlu dicapainya  solusi dua negara setelah gencatan senjata di Gaza guna menghindari perang lain di wilayah tersebut.

Dia mengatakan hal inilah yang ingin diajukan komite kementerian yang menekankan bahwa solusi iti harus “struktural.”

Turki siap memberikan kontribusi maksimal untuk mencapai tujuan ini, kata Fidan..

Komite itu mendesak solusi dua negara, dan menyerukan pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, berdasarkan perbatasan yang ditetapkan pada 1967.

Israel melanjutkan serangan militernya di Jalur Gaza pada 1 Desember setelah berakhirnya jeda kemanusiaan selama sepekan dengan Hamas.

Sedikitnya sudah 17.487 warga Palestina tewas dan lebih dari 46.480 orang luka-luka akibat serangan udara dan darat tanpa henti di Gaza sejak 7 Oktober, menyusul serangan Hamas di Israel.

Sementara itu, jumlah resmi warga Israel yang tewas akibat serangan Hamas tercatat 1.200 orang.