Tukang Kredit Baju Nekat Mudik Bawa Istri dan Dua Anaknya ke Subang

  • Bagikan
Mudik, Dokter Spesialis, Angkutan Umum
Ilustrasi. DOK/NET
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Seorang tukang kredit baju nekat mudik menggunakan sepeda motor bersama isteri dan dua anaknya dari Majalengka menuju Subang, demi berkumpul bersama keluarga besarnya di kampung pada momentum lebaran.

“Kebetulan kerjaan libur selama bulan puasa. Jadi mudik lebih awal supaya tenang dan belum macet,” kata Supriadi, pemudik bersepeda motor dari Majalengka ke Subang, saat ditemui di Subang, Rabu (3/4).

Ia mengaku mudik menggunakan sepeda motor bersama isteri dan kedua anaknya, karena bisa lebih irit. Namun sampainya lama, karena sepeda motor yang dikendarai dipenuhi penumpang dan barang bawaan.

Saat hendak melintasi jalan raya menuju Subang, pemudik ini secara tak sengaja bertemu dengan mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, hingga akhirnya keduanya berbincang-bincang.

Dalam perbincangan itu terungkap kalau Supriadi ini berprofesi sebagai tukang kredit baju di wilayah Sukabumi. Selama menjajakan kredit, Supriadi meninggalkan isteri dan anaknya yang tinggal di Majalengka.

Dari hasil usaha menjalankan kredit tersebut ia mendapatkan upah dari bosnya sekitar 10-15 persen dari keuntungan, tergantung dengan target penjualan.

Menurut Supriadi, dalam satu bulan ia bisa mengkreditkan pakaian hingga 200 potong dengan cicilan mulai Rp2-5 ribu per hari.

“Jika pembayaran kredit lancar, dalam satu bulan bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp2,4-2,8 juta,” katanya seraya menambahkan bahwa barang yang dikreditkan itu adalah barang milik bosnya di Majalengka.

Supriadi menyebutkan, selama puasa ini pekerjanya diliburkan oleh bos. Sebab rata-rata pelanggannya sudah membeli baju kredit sebelum puasa. Ia pun kini tak memiliki penghasilan dan hanya mengandalkan tabungan.

Untuk modal mudik pun ia mengaku sudah mengajukan pinjaman Rp1 juta kepada bosnya, tapi belum cair. Beruntung ibu kandungnya memberikan pinjaman dengan menjual emas 4 gram senilai Rp2 juta untuk bekal mudik.

“Sekarang mudik pinjam dari ibu jual kalung 4 gram, nanti setelah lebaran dibayar,” katanya.

Dedi Mulyadi kemudian meminta agar kedua anaknya diberi helm selama perjalanan menggunakan motor. Sebab selain karena peraturan, hal itu juga sebagai bentuk antisipasi keselamatan selama berkendara.

Di akhir perbincangan, Dedi Mulyadi kemudian memberikan sejumlah uang bekal untuk mudik keluarga tersebut.

Ia meminta agar uang itu digunakan untuk mengganti emas milik sang ibu yang dijual untuk bekal mudik.

“Saya kagum sama ibunya yang berani menjual kalung demi anaknya bisa mudik,” katanya.

  • Bagikan