Bahlil Anggap Kehadiran Setya Novanto di Acara Padel Golkar sebagai Hal Wajar

Bahlil Anggap Kehadiran Setya Novanto di Acara Padel Golkar sebagai Hal Wajar

Realitarakyat.com  –  Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menanggapi munculnya mantan Ketua Umum Golkar, Setya Novanto, dalam acara peresmian lapangan padel Yellow Racquet Club di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta. Menurut Bahlil, kehadiran Setya Novanto merupakan hal biasa karena ia masih bagian dari keluarga besar Golkar.

“Itu kan keluarga besar Golkar, jadi biasa saja,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/11).

Bahlil menegaskan bahwa kehadiran Setya Novanto tidak berkaitan dengan kepengurusan partai. Ia membantah adanya rencana memasukkan Setya Novanto ke dalam struktur organisasi Golkar.

“Enggak ada, enggak ada,” tegasnya.

Sebelumnya, Bahlil meresmikan lapangan padel dan pickleball Yellow Racquet Club pada Minggu (9/11/2025). Fasilitas olahraga ini dibangun sebagai bagian dari rangkaian HUT ke-61 Partai Golkar dan bertujuan merangkul generasi muda yang kini menggemari olahraga padel.

Dalam sambutannya, Bahlil menyebut pembangunan fasilitas tersebut sebagai langkah inovatif untuk menjangkau segmen muda. “Ini bukan hanya lapangan olahraga, tapi simbol keterbukaan dan pembaruan,” katanya.

Ia juga menyoroti aspek keberlanjutan karena lapangan padel tersebut menggunakan energi baru terbarukan melalui panel surya. “Sejalan dengan semangat Golkar yang ramah lingkungan,” tambahnya.

Acara peresmian turut dihadiri sejumlah tokoh Golkar, di antaranya Aburizal Bakrie, Sarmuji, Sari Yuliati, Wihaji, serta Dito Ariotedjo yang menjadi inisiator pembangunan lapangan padel. Setya Novanto juga hadir dalam kapasitas sebagai mantan Ketua Umum Golkar periode 2016–2017.

Setya Novanto sebelumnya menjalani hukuman 15 tahun penjara atas kasus korupsi proyek e-KTP. Ia bebas bersyarat pada Agustus 2025 setelah menjalani delapan tahun masa tahanan di Lapas Sukamiskin, Bandung. Kasus e-KTP yang menjeratnya merupakan salah satu skandal korupsi terbesar di Indonesia dengan kerugian negara mencapai Rp2,3 triliun.(Din)