Realitarakyat.com – Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai perluasan implementasi transaksi mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) mendesak untuk terus diperkuat.
Langkah ini dinilai krusial guna memperkokoh ketahanan ekonomi kawasan sekaligus meminimalisasi risiko gejolak finansial akibat hegemoni dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Huda memaparkan bahwa dominasi dolar AS secara historis baru terbentuk setelah sistem standar emas runtuh, di mana AS kala itu memiliki cadangan emas terbesar di dunia sehingga dolarnya diakui sebagai standar alat pembayaran internasional.
“Sebelum dolar menjadi mata uang utama dunia, perdagangan global pernah menggunakan emas sebagai acuan nilai. Ketika sistem itu berubah, dolar menjadi standar karena didukung cadangan emas yang besar dan digunakan secara luas,” ujar Huda dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Sinergi dan Kolaborasi Bersama Menguatkan Rupiah, RI Tak Lagi Bergantung Pada Dolar” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/6).
Kendati skema LCS kini gencar diterapkan oleh sejumlah negara berkembang, Huda memberikan catatan kritis bahwa pengaruh dolar AS belum sepenuhnya hilang.
Dalam praktiknya, konversi nilai tukar antar-mata uang lokal di lapangan dinilai masih kerap menjadikan dolar AS sebagai mata uang perantara (vehicle currency), sehingga fluktuasi mata uang paman sam tersebut tetap membayangi transaksi bilateral.
Huda meluruskan persepsi publik bahwa semangat LCS bukan bertujuan untuk menghapus atau menendang penggunaan dolar AS secara total dari sistem keuangan nasional. Sebaliknya, kebijakan ini merupakan bantalan ekonomi untuk mengamankan ketersediaan likuiditas domestik.
“Tujuannya bukan mengeluarkan dolar dari sistem perdagangan, tetapi mengurangi ketergantungan terhadap dolar sehingga transaksi bisa lebih banyak menggunakan mata uang masing-masing negara,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, CELIOS mendorong negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) untuk mulai merumuskan pembentukan mata uang tunggal regional, mengadopsi keberhasilan mata uang euro yang digunakan oleh Uni Eropa.
Integrasi mata uang satu kawasan ini dinilai sangat ampuh memotong ketergantungan terhadap mata uang asing non-blok.
“Ketika transaksi antarnegara Eropa dilakukan dengan euro, ketergantungan terhadap dolar menjadi jauh berkurang. ASEAN seharusnya bisa mengarah ke model seperti itu dalam jangka panjang,” kata Huda memberikan estimasi.
Meski demikian, Huda mengakui gagasan mata uang bersama ASEAN ini tidak mudah diwujudkan dalam waktu dekat karena membutuhkan komitmen politik yang tinggi, harmonisasi kebijakan fiskal-moneter yang rumit, serta perjanjian internasional yang mengikat antar-negara anggota.
Oleh sebab itu, optimalisasi dan perluasan mitra dagang dalam skema LCS dinilai sebagai langkah yang paling realistis dan taktis untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dari tekanan eksternal saat ini.[prs]







