DPR  

Hetifah Harap Pemerintah Tambah Anggaran Pendidikan Secara Signifikan

Hetifah Harap Pemerintah Tambah Anggaran Pendidikan Secara Signifikan

Realitarakyat.com – Komisi X DPR RI menggelar rapat kerja dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Kamis (3/6/2021).

Dalam rapat tersebut, muncul selisih yang cukup besar antara pagu indikatif anggaran Kemendikbudristek 2022 dengan kebutuhan anggaran 2022 yang diusulkan oleh Kemendikbudristek.

“Saat ini pagu indikatif 2022 sebesar 73,1 T, sedangkan yang kita ajukan adalah 93,2 T. Selisih sebesar 20 T ini sedang kami usulkan kepada Kemenkeu dan Bappenas,” ujar Sekjen Kemendikbudristek Ainun Naim dalam rapat.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian sangat menyayangkan selisih tersebut bisa ada. Menurutnya, dengan digabungnya dua Kementerian menjadi Kemendikbudristek, membuat anggaran untuk kementerian itu bertambah bukan berkurang dari tahun sebelumnya. Karena itu, politikus Golkar ini berharap pemerintah bisa mempertimbangkan selisih anggaran tersebut.

“Hal ini kontradiktif dengan semangat pembangunan SDM yang menjadi tema pemerintahan kali ini”, ungkapnya.

Lebih lanjut, wakil rakyat asal Kaltim ini berharap anggaran yang signifikan dapat diarahkan ke digitalisasi pendidikan dan penanggulangan dampak pandemi.

“Learning loss yang terjadi harus segera kita tanggulangi, dan sebaiknya anggaran yang besar dapat dialokasikan kesana. Termasuk untuk penyediaan teknologi yang dapat menunjang pembelajaran,” jelas Hetifah.

Sehubungan dengan hal tersebut, Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan bahwa digitalisasi pendidikan juga merupakan salah satu prioritas Kemendikbudristek.

“Saat ini, kita sedang melakukan digitalisasi besar-besaran, salah satunya adalah membangun platform pendidikan yang dapat membantu guru melakukan pengajaran. Selain itu, kita juga sedang mengupayakan bantuan TIK bagi sekolah-sekolah, dalam bentuk laptop, router, dan yang lainnya”, paparnya.

Nadiem menjelaskan, perangkat TIK tersebut yang akan digunakan untuk mengakses platform pembelajaran. “Bagaimana mereka dapat memakai platform jika tidak ada laptop? Oleh karena itu hal tersebut juga menjadi program utama kami,” pungkasnya.[prs]