Realitarakyat.com – Ekonom Senior Rizal Ramli mempertanyakan rencana pemerintah memindahkan Ibu Kota Negara (IKN) ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim), masih menyisakan pertanyaan.
“Kita tiba-tiba bikin ibu kota di Kalimantan Timur. Pertanyaannya, siapa yang mau tinggal di situ? Pejabat dengan gaji pas-pasan, masak mau? Kecuali pejabat korup. Lalu, pembiayaannya bagaimana?” ucap Rizal Ramli dalam kanal YouTube @FadliZonOfficial yang dikutip pada Selasa (5/10).
Rizal mengatakan, meskipun sebagian menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ditambah pembiayaan dengan menjual kantor-kantor strategis negara, lalu disewakan kepada swasta. Namun, kata dia, yang akan menempati ibu kota baru di Kaltim itu belum dapat dipastikan kejelasannya.
“Perusahaan perusahaan real estate besar tidak akan mau bikin real estate di Kaltim, kecuali dipaksa. Karena mereka lebih menguntungkan bikin BSD baru, bikin kota baru, bikin kota-kota satelit baru di Pulau Jawa. Kalau ke sana karena kepaksa aja,” ucap pria yang akrab disapa RR itu.
Menurut RR, hanya BUMN negara China yang akan bersedia dan tertarik untuk membuat real estate di kawasan Ibu Kota Negara baru. Tidak menutup kemungkinan, kata dia, mengundang penduduk China untuk menempati ibu kota baru, lantaran rakyat Indonesia agaknya tidak bersedia untuk tinggal di kawasan ibu kita baru.
“Banyak yang tertarik untuk itu adalah BUMN China. Untuk beli tanah di situ, bangunin Ibu Kota baru, tapi penghuninya siapa nanti? Rakyat mah tidak mau tinggal di situ,” ujar Rizal Ramli.
Rizal mengatakan, Nanti yang bisa masuk di situ BUMN China. Karena, menurut dia, modelnya selalu begitu.
“Misalnya bikin kereta api Jakarta-Bandung. Mereka tau kalau hanya dari jualan tiket gak cukup mampu, tidak masuk itungannya. Jadi mereka minta 3 pemberhentian.” ujar Rizal
Menurut Rizal, gaya Bejing China selau dalam setiap kerjasama di bidang infrastruktur maupun investasi selalu dikaitkan dengan real estate. Supaya mereka bisa mereka kembangkan dan bisa menjual tidak hanya infrastruktur yang mereka bangun.
“Nah, polanya itu sama. Beli murah di Kaltim, dibangun jual sama rakyat Indonesia, siapa yang mau pindah ke Kalimantan timur penajam Paser Utara, kaga ada kan? tapi dari Beijing dengan penduduk 1,4 miliar banyak tuh yang mau pindah. Jadi kita lagi bangun ibukota buat siapa? Apakah betul buat rakyat? Apakah betul buat bangsa kita? Atau kita persiapkan ini untuk Beijing baru?” ujar dia.[prs]







