Realitarakyat.com – Direktur Solusi dan Advokasi Institut (SA Institut) Suparji Ahmad meminta pihak terkait menindaklanjuti perdebatan dalam Rapat Kerja antara Menteri ESDM dgn Komisi VII DPR RI. Sebab, berdasarkan keterangan salah satu anggota dewan, diduga ada ‘pemain’ ini bisa memproduksi hingga 1 juta dalam satu bulan.
“Ini jumlah yang sangat fantastis. Dugaan ini harus ditindaklanjuti untuk memastikan ada atau tidak aktifitas pertambangan illegal. Perlu juga didalami kemungkinan penjualan sampai bisa dijual ke luar negeri,,” kata Suparji dalam keterangan persnya, Jumat (14/1).
Pada dasarnya tidak boleh terjadi penyimpangan dalam tambang batu bara . Untuk itu, pengawasan tambang batu bara harus ditingkatkan sehingga tidak ada pihak tertentu mengeruk keuntungan dengan cara melawan hukum.
“Selain itu, jangan sampai justeru ada pihak pihak lain yang ikut ‘mengamankan’ orang tersebut sehingga perbuatannya berjalan mulus dan tidak tersentuh hukum. Maka penyimpangan ini harus diusut tuntas,” ulasnya.
“Nantinya, apabila terungkap ada oknum yang terlibat, maka harus ditindak tegas. Copot dari jabatan, lalu pidanakan. Karena aktifitas tersebut tidak sesuai ketentuan hukum dan juga dapat merusak insfrastruktur di sana,” sambung Suparji.
Selain di Kalimantan, SA Institut juga mendorong pengawasan tambang di wilayah lain. Jangan-jangan, banyak wilayah tambang yang mengalami hal serupa. Terjadi pencurian tambang dalam jumlah besar, namun tidak ada pertanggungjawaban pidana.
“Kementrian ESDM, Polri serta Pemda harus bergerak cepat dan kolaboratif untuk mengungkap hal ini,” pungkasnya.[prs]







