Realitarakyat.com – Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan kenaikan harga BBM subsidi yang dilakukan pemerintah tidak di waktu yang tepat terutama pada jenis Pertalite.
“Masyarakat jelas belum siap menghadapi kenaikan harga Pertalite menjadi Rp 10.000 per liter,” ujar Bhima, Minggu (4/9).
Menurut Bhima, dampak kenaikan harga BBM bukan hanya di sektor transportasi saja, tetapi nantinya semua sektor akan terdampak akibat kenaikan tersebut.
“Misalnya harga pengiriman bahan pangan akan naik disaat yang bersamaan pelaku sektor pertanian mengeluh biaya input produksi yang mahal terutama pupuk,” terang Bhima.
Lebih lanjut, Bantalan Sosial (Bansos) yang diberikan pemerintah yang hanya diberikan dalam waktu 4 bulan tidak akan cukup dalam mengkompensasi efek kenaikan harga BBM.
“Misalnya ada kelas menengah rentan, sebelum kenaikan harga Pertalite masih sanggup membeli di harga 7.650 per liter, sekarang harga Rp10.000 per liter mereka turun kelas jadi orang miskin. Data orang rentan miskin ini sangat mungkin tidak tercover dalam BLT BBM karena adanya penambahan orang miskin pasca kebijakan BBM subsidi naik. Pemerintah perlu mempersiapkan efek berantai naiknya jumlah orang miskin baru dalam waktu dekat,” jelas dia.
Tujuan utama untuk membatasi konsumsi Pertalite subsidi, katanya, juga tidak akan tercapai, ketika disaat bersamaan harga Pertamax ikut naik menjadi Rp 14.500 per liter. Akibatnya pengguna Pertamax akan tetap bergeser ke Pertalite.
Sebagai informasi, Inflasi bahan makanan masih tercatat tinggi pada bulan Agustus yakni 8,55 persen year on year, bakal makin tinggi. Diperkirakan inflasi pangan kembali menyentuh double digit atau diatas 10 persen per tahun pada September ini. Sementara inflasi umum diperkirakan menembus di level 7 hingga 7,5 persen hingga akhir tahun dan memicu kenaikan suku bunga secara agresif.[prs]







