Realitarakyat.com – Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan bimbingan teknis tentang penangkapan Ikan bagi nelayan setempat dalam upaya meningkatkan produksi perikanan tangkap laut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulon Progo Trenggono Trimulyo, mengatakan bimbingan teknis penangkapan ikan bagi nelayan itu sebagai bentuk komitmen DKP Kulon Progo dalam memberdayakan nelayan kecil setempat.
“Kami ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi untuk nelayan, karena dengan keberanian yang luar biasa, menaklukkan gelombang laut selatan, Dinas Kelautan dan Perikanan berupaya memberikan fasilitas yang dibutuhkan. Namun tidak hanya sarana dan prasarana yang lengkap, tapi peningkatan pengetahuan dan keterampilan nelayan menjadi penting,” kata Trenggono, Selasa (22/8).
Ia mengatakan penangkapan ikan menjadi kegiatan sehari hari, namun diperlukan ilmu dan teknik baru dalam menangkap ikan dengan kondisi laut yang sama dengan Kulon Progo, sehingga bimbingan teknis kali ini mendatangkan nelayan dari Purworejo, Jawa Tengah.
“Kami berharap dengan mendatangkan nelayan dari Purworejo bisa tukar pengalaman tentang metode penangkapan ikan,” kata Trenggono.
Salah satu nelayan Purworejo Sumarsono mengatakan laut selatan Kulon Progo kondisinya sama dengan laut selatan Purworejo. Penangkapan ikan nelayan Jatikontal, Purworejo, hampir sama di Kulon Progo.
Sumarsono menceritakan menjadi nelayan sejak 2003. Selain menjadi nelayan, juga merupakan pengurus TPI Kertojayan dimulai dengan mendapatkan bantuan dari KKP Pusat berupa delapan armada dan sebuah bangunan berupa TPI dan rumah mesin pada 2003. Sampai saat ini sudah terdapat 61 perahu dari 13 desa.
“Pada 2023 mendapatkan bantuan mesin dari aspirasi. Kegiatan aktivitas harian di TPI Kertojayan melakukan potongan bagi nelayan 13 persen dari hasil tangkapan. 1,1 persen digunakan untuk PAD dan pendorong dan tukang tagok 15 persen,” katanya.
Nelayan dari Purworejo Sudiro menyampaikan bahwa pada dasarnya dalam menangkap ikan adalah mental yang kuat. Untuk pengelolaan TPI sama mengenai PAD dan pembagian untuk pendorong. Yang saat ini berbeda adalah iuran disisihkan satu persen yang digunakan untuk peringatan larung karena belajar dari pengalaman saat mau mengadakan larungan keadaan sedang paceklik.
TPI Jatikontal berdiri dari 2003, sedangkan dirinya masuk TPI tahun 2008. Untuk menyiasati bantuan yang diberikan dari pemerintah dibuat KUB-KUB baru, dulu satu KUB 80 orang sekarang dipecah menjadi delapan KUB, masing masing KUB memiliki anggota 10 orang.
“Walaupun terdapat beda-beda KUB tetapi masih terdapat dalam satu induk KUB,” katanya.
Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil dan Pengelolaan Pelelangan Ikan DKP Kulon Progo Wakhid Purwosubiyantara mengatakan kunci dari kegiatan penangkapan ikan di laut adalah tetap semangat, dan terus berusaha.
Tempat Pelelangan Ikan merupakan tempat terakhir dalam proses penangkapan ikan di laut, karena hasil tangkapan semua dijual di TPI. Kabupaten Kulon Progo mempunyai empat TPI yaitu TPI Trisik di Banaran Galur, TPI Bugel, di Bugel, Panjatan, TPI Karangwuni di Karangwuni Wates dan TPI Congot di Jangkaran Temon.
Program TPI HEBAT yang merupakan singkatan dari Higienis, Ekonomis, Bersih, Aman, dan Tertib diluncurkan sebagai pembeda dengan TPI di luar Kabupaten Kulon Progo. Bangunan TPI yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelelangan ikan, namun juga tempat pemasaran, tempat pengolahan dan kuliner ikan dengan bangunan yang berbasis wisata dan berciri budaya.
“Dengan adanya TPI HEBAT diharapkan pengelolaan TPI menjadi lebih baik dan terintegrasi dengan baik sehingga walaupun mungkin sedang musim paceklik ikan, TPI tetap hidup dan mampu mendukung destinasi wisata pantai di Kabupaten Kulon Progo,” katanya.







