Realitarakyat.com – Harga emas di pasar dunia terus melambung, bahkan menembus level resistensi di 2.650 dolar AS per ons.
Sebelumnya harga logam mulia tersebut bahkan sempat menyentuh 2.671,5 dolar AS per ons.
Menurut analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, harga emas dunia kemungkinan besar masih akan naik signifikan.
Assuaibi menilai ada beberapa faktor yang membuat harga logam mulia akan terus menerus melonjak.
Pertama, bank sentral AS kemungkinan akan menurunkan kembali suku bunga hingga 50 basis poin (BPS) di pertemuan bulan November.
“Penurunan ini luar biasa untuk kondisi perekonomian yang sedang menggeliat,” kata Ibrahim yang juga Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Rabu, 25 September 2024.
Informasi penurunan suku bunga ini, sudah didukung beberapa pejabat The Fed. Padahal di bulan September ini The Fed sudah menurunkan suku bunga cukup besar juga 50 bps.
Kedua, kebijakan bank sentral Cina menggelontorkan stimulus besar-besaran untuk menggerakkan perekonomian yang masih bermasalah akibat krisis properti. “Stimulus ini membuat investor kembali bergairah melakukan pembelian logam mulia sebagai safe haven (instrumen investasi yang paling aman),” ujar Ibrahim.
Ketiga, data ekonomi di Eropa terus menurun, utamanya aktivitas manufaktur di Jerman dan Italia. Keduanya merupakan negara ekonomi terbesar pertama dan kedua di Eropa.
“Sehingga perlambatan industri manufaktur di kedua negara itu berdampak pada pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa. Karenanya, kemungkinan besar bank sentral Eropa akan menurunkan kembali suku bunga di bulan Oktober antara 50-60 bps,” ujar Ibrahim.
Kemungkinan penurunan suku bunga yang berlanjut di Eropa, juga akan menjadi stimulus bagi perekonomian. Hal ini mendorong para investor mendulang logam mulia sebagai safe haven.
Keempat, tensi geopolitik yang makin memanas di Timur Tengah, utamanya dataran tinggi Golan. Dimana 40 ribu milisi dari Yaman, Irak, Suriah dan Lebanon bergabung dan siap melakukan serangan balasan ke Israel.
Ibrahim mengatakan, kemungkinan akan terjadi perang besar di dataran tinggi Golan yang membuat situasi Timur Tengah makin panas. Ketegangan baru ini juga memicu para investor membeli logam mulia sebagai instrumen investasi yang paling aman dan stabil.
Melihat perkembangan itu, Ibrahim memperkirakan harga emas bisa mencapai 2.700 dolar AS per ons di bulan Oktober. Perkiraan harganya akan terus naik karena bulan November dan Desember bank sentral global masih akan menurunkan suku bunga.
“Karenanya para investor yang memiliki logam mulia jangan dijual dulu. Karena kalau sudah menyentuh level 2.700 harganya kemungkinan masih akan naik,” kata Ibrahim menutup analisnya.***







