Realitarakyat.com – Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin menilai penghormatan internasional yang diterima Indonesia usai pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB ke-80 merupakan modal penting untuk memperkuat konsistensi politik luar negeri bebas aktif di kancah global.
Nurul menyebut, apresiasi dunia mulai dari standing applause para delegasi hingga pujian Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menjadi bukti bahwa posisi Indonesia semakin dihormati.
“Pengakuan luar negeri begitu besar, itu tidak mudah. Ini bisa memperkuat modal diplomasi RI secara internasional. Kita punya kekayaan alam, penduduk terbesar keempat dunia, dan semua itu jadi nilai tinggi. Implementasinya memang perlu waktu, tetapi kita harus optimistis,” kata Nurul dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (25/9).
Ia menambahkan, pembangunan citra internasional juga harus diiringi dengan pembangunan rasa percaya diri bangsa. “Jangan hanya melihat kekurangan di dalam negeri, tetapi juga hargai capaian kita di forum dunia,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat politik Citra Institute Efriza mengingatkan bahwa penghormatan dunia terhadap pidato Presiden Prabowo harus diikuti langkah nyata di dalam negeri agar tidak sekadar menjadi retorika.
“Pidato Prabowo kuat dan penuh gagasan, tetapi kelemahannya masih pada detail implementasi. Jangan sampai narasi besar berhenti jadi ambisius tanpa bukti nyata,” kata Efriza.
Ia menekankan isu-isu strategis yang disampaikan Prabowo—mulai dari swasembada pangan, perubahan iklim, hingga ketahanan energi—menuntut pembuktian langsung di lapangan.
Menurutnya, tantangan seperti tingginya harga beras, krisis iklim, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan pemerintah.
Efriza juga menyoroti pentingnya memperkuat kualitas demokrasi nasional agar sejalan dengan citra Indonesia sebagai negara yang menjunjung hak asasi manusia di forum global.
“Prabowo sudah memulai dengan narasi kuat. Namun, konsistensi kebijakan domestik menjadi faktor penentu agar diplomasi Indonesia tetap kredibel,” tegasnya.







