DPR  

DPR: Indonesia Punya Modal Pimpin Pasar Karbon Dunia

DPR: Indonesia Punya Modal Pimpin Pasar Karbon Dunia
Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna. //Net

Realitarakyat.com – Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, menilai Indonesia memiliki modal ekologis, historis, dan institusional yang sangat kuat untuk tampil sebagai salah satu pemimpin pasar karbon dunia.

Potensi tersebut, menurutnya, harus ditampilkan secara tegas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pasar Karbon agar posisi Indonesia semakin diperhitungkan dalam tatanan pasar karbon global.

Ateng menegaskan, forum internasional tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menunjukkan kapasitas dan peran strategisnya, sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata dalam arsitektur perdagangan karbon dunia.

Ia mengingatkan, Indonesia merupakan negara mega biodiversitas peringkat ketiga di dunia setelah Brasil dan Kongo. Namun di sisi lain, Indonesia juga pernah mencatatkan tingkat deforestasi tertinggi secara global.

“Indonesia ini paradoks. Kita punya kekayaan biodiversitas yang luar biasa, tetapi juga pernah dicatat sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi,” kata Ateng, dalam keterangan persnya, Jumat (2/1).

“Justru dari situ dunia melihat Indonesia sebagai kunci dalam agenda pemulihan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ateng menjelaskan bahwa Indonesia bukan pendatang baru dalam ekosistem pasar karbon.

Sejumlah skema perdagangan karbon internasional telah lama diterapkan dan diuji coba di Tanah Air, mulai dari REDD, REDD+, hingga REDD++, termasuk berbagai mekanisme global lainnya.

“Sebelum Paris Agreement, Indonesia sudah menjadi lokasi uji coba berbagai skema perdagangan karbon. Artinya, pengalaman kita sangat panjang dan seharusnya menjadi modal besar dalam pasar karbon dunia,” tegasnya.

Ia juga menyoroti keberadaan pasar karbon domestik melalui IDX Carbon yang menjadi salah satu platform awal yang dibentuk. Meski demikian, pengakuan internasional terhadap mekanisme dan sistem pasar karbon yang dibangun Indonesia dinilai masih belum maksimal.

Karena itu, Ateng menekankan pentingnya Kementerian Lingkungan Hidup memperkuat kolaborasi internasional melalui kerja sama dan nota kesepahaman dengan lembaga standar global, seperti Verra dan Gold Standard, khususnya dalam sistem penghitungan dan verifikasi karbon.

“Ini menunjukkan bahwa kita sudah melangkah jauh, tetapi masih perlu memperkuat kepercayaan. Platform sudah ada, pasar sudah dibentuk, tinggal bagaimana kita memastikan mekanismenya diterima dunia,” tuturnya.

Ia berharap, KTT Pasar Karbon dapat dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memamerkan berbagai inisiatif nyata yang telah dan akan dijalankan Indonesia dalam pengembangan pasar karbon.

“Indonesia harus tampil percaya diri. Kita punya pengalaman, punya modal ekologis, dan punya instrumen kebijakan. Jangan sampai kita hanya jadi pasar, tetapi tidak diakui sebagai pemain utama,” tandasnya.[prs]