Realitarakyat.com – Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyoroti keras kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis.
Peristiwa tersebut dinilai sebagai cerminan serius lemahnya perlindungan terhadap anak dalam sistem pendidikan dan sosial.
“Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat. Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun,” kata Hetifah saat dihubungi, Rabu (4/2).
Menurut Hetifah, kejadian tersebut menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan agar tidak ada lagi anak yang mengalami tekanan hingga putus asa hanya karena keterbatasan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan sekolah.
“Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena.”
“Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan dasar harus dijalankan secara benar-benar gratis dan inklusif, tanpa menimbulkan beban tambahan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Oleh karena itu, pemerintah diminta memastikan bahwa sekolah dasar tidak hanya bebas biaya, tetapi juga menjamin ketersediaan perlengkapan belajar bagi peserta didik.
“Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi,” tegasnya.
Selain peran negara, Hetifah juga menekankan pentingnya membangun kepedulian sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat agar anak-anak yang mengalami kesulitan ekonomi dapat segera mendapatkan bantuan dan perhatian.
“Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan,” kata Hetifah.[prs]







