Realitarakyat.com — Anggota Komisi IV DPR RI Darori Wonodipuro mendorong transformasi sektor karet nasional dari hulu hingga hilir agar komoditas tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah melalui industri pengolahan dan manufaktur.
Menurut Darori, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia. Namun, sebagian besar perkebunan karet nasional masih dikelola rakyat sehingga keberlangsungan komoditas tersebut berkaitan langsung dengan kehidupan jutaan keluarga petani.
“Karet ini sebagai dasar pembuatan furnitur. Namun, kenyataannya banyak perkebunan karet yang masuk kawasan hutan sehingga sering menimbulkan polemik,” ujar Darori dalam keterangannya, dikutip Rabu (7/10/2026).
Ia mengatakan, persoalan status lahan perlu segera ditata karena banyak masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya dari perkebunan karet. Pemerintah dan kementerian terkait, kata dia, perlu duduk bersama untuk mencari penyelesaian yang tidak merugikan petani.
“Masalahnya banyak masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya di sana. Sehingga nanti akan kita atur dulu permasalahannya dan dibahas bersama kementerian terkait,” katanya.
Darori menyebut, salah satu langkah yang perlu didorong adalah memasukkan komoditas karet ke dalam skema pengelolaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Ia menilai, dukungan pembiayaan dan pengelolaan yang lebih kuat diperlukan agar sektor karet dapat kembali berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani maupun industri nasional.
“Kalau dana karet tidak masuk dalam peraturan undang-undang, kami akan segera merekomendasikan bersama kementerian yang ada. Sebab, apabila tidak ada pengelolaan karet, akan sulit mencapai kemakmuran,” tutur Darori.
Meski demikian, ia menegaskan transformasi industri karet harus dimulai dari pembenahan di tingkat petani. Peningkatan kualitas bahan baku menjadi penting agar karet Indonesia memenuhi standar industri sekaligus memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dengan demikian, penguatan sektor karet tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk membangun rantai industri dari perkebunan hingga produk jadi yang bernilai tambah.(Ess)







