Realitarakyat.com – Adanya pandemi COVID-19 tidak menghentikan pemerintah Amerika Serikat (AS), untuk kembali menyelenggarakan Program Pertukaran International Visitor Leadership Program (IVLP).
Program yang telah dimulai sejak 1952 itu, turut menyertakan peserta dari Indonesia di tiap tahunnya.
Pada 2021 sebanyak 81 peserta dari berbagai latarbelakang dengan 14 diantaranya merupakan jurnalis dari sejumlah wilayah di Indonesia, mengikuti program yang diprakarsai oleh Pemerintah AS tersebut.
Program Pertukaran IVLP 2021 mengusung tema “Hubungan AS-Tiongkok”.
Sebelumnya, IVLP digelar dengan mengundang para jurnalis terpilih untuk berkunjung AS dan mengikuti berbagai program kegiatan.
Namun, adanya pandemi COVID-19 menyebabkan Program Pertukaran IVLP untuk pertama kalinya diselenggarakan secara daring.
Kepala Atase Pers yang juga merupakan Juru Bicara Kedutaan Besar AS di Jakarta, Michael Quinlan memberikan apresiasi kepada para jurnalis terpilih, untuk mengikuti berbagai program yang ada secara maksimal.
“Saya ingin mengungkapkan apresiasi saya kepada Anda semua, yang telah meluangkan waktu untuk menjadi bagian dari program ini,” ujar Quinlan pada pertemuan secara daring bersama para jurnalis, Kamis (11/2/2021).
Quinlain mengharapkan, para peserta dapat memanfaatkan program pertukaran untuk meningkatkan kualitas profesionalisme menjadi lebih baik.
“Anda meluangkan waktu untuk meningkatkan kualitas diri, untuk belajar, serta untuk meraih kesempatan ini secara penting menjadikan diri Anda sebagai pelayan publik,” imbuhnya.
Program Pertukaran IVLP yang akan dimulai pada 18 Februari – 18 Maret, diisi dengan pertemuan yang menghadirkan langsung berbagai pihak berkompeten.
Mulai dari perwakilan pemerintah, jurnalis, hingga komunitas minoritas di AS.
Wakil Kepala Atase Kebudayaan dan Pendidikan Kedubes AS Leo Jilk menekankan, melalui program ini para peserta akan ditunjukkan langsung mengenai kebebasan pers dan kebebasan berbicara.
“Tujuan dari program ini adalah untuk menunjukkan bagaimana organisasi dan pemerintah dalam bidang kewartawanan, kebebasan pers, dan kebebasan bicara di Amerika Serikat berfungsi. Khususnya, di kasus ini, tentang relasi terhadap Tiongkok dan Amerika Serikat dan tentang pembangunan prasarana,” papar Jilk.
Dikatakan para peserta juga didorong untuk memanfaatkan menjalin jaringan bersama para narasumber, untuk keperluan pemberitaan di masa mendatang.
“Meskipun, kami tahu bahwa program daring ini tidak dapat menggantikan pengalaman kunjungan langsung ke AS, kami telah bekerja keras untuk membuat konten yang akan bermakna bagi anda. Tidak kalah pentingnya Kami berharap bahwa anda membuat koneksi dan memperluas jaringan,” ucapnya.
Pada program IVLP yang akan berlangsung selama sebulan, para jurnalis Indonesia akan berkesempatan untuk mempelajari hak dan tanggungjawab dari kebebasan pers dalam suatu negara yang demokratis di AS.
Menjajaki bagaimana peran para jurnalis dalam melakukan investigasi, baik yang berkaitan dengan isu sosial maupun hal-hal yang sifatnya akan menimbulkan suatu tindakan ilegal atau mengancam keselamatan narasumber.
Selain, akan membahas secara khusus mengenai “Hubungan AS-Tiongkok”, topik mengenai suara-suara dari para minoritas etnis Uighur serta kehidupan muslim di AS juga akan turut menjadi fokus pertemuan secara daring itu.(ilm)







