Antusiasme Vaksinasi COVID-19, Antara Gotong-royong dan Keterpaksaan

Oleh Sugandi

Antusiasme Vaksinasi COVID-19, Antara Gotong-royong dan Keterpaksaan

SEORANG wanita setengah baya, sebut saja namanya Imas Kustini, berdiri di antara warga lainnya di bilangan Bekasi, Jawa Barat. Rupanya, dia tengah mengantre giliran untuk mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama.

Tubuh wanita beranak tiga ini, wajahnya tampak berkeringat akibat teriknya matahari yang saat itu menyorot tajam tegak lurus di atas kepalanya.

Imas, begitu wanita ini biasa disapa, mengaku rela berpanas-panasan hanya untuk mendapatkan vaksin dosis pertama. “Iya Pak saya harus antre mendaftar untuk dapat vaksin,” katanya saat dihampiri.

Setelah hampir dua tahun lamanya virus corona (COVID-19) melanda Indonesia dan pemerintah mewajibkan masyarakat untuk disuntik vaksin sebagai upaya mencegah penyebaran wabah mematikan tersebut, Imas selama itu kerap mengabaikan alias tidak mau disuntik vaksin hanya karena takut jarum suntik.

Tak cuma itu, wanita kelahiran Subang ini mengaku ogah disuntik vaksin karena banyak informasi yang diterimanya, bahwa vaksin (apapun mereknya), secara perlahan dapat berefek buruk pada kondisi tubuhnya. “Bisa terjadi pengentalan darah di tubuh.” Begitu informasi yang dia dapatkan.

Namun setelah memperoleh penjelasan dari petugas kesehatan di sekitar tempat tinggalnya, bahwa vaksin tidaklah seperti itu. Sebaliknya, vaksin justru selain untuk mencegah infeksi virus corona, vaksin Covid-19 ini juga bisa memberikan manfaat lain yang penting bagi tubuh kita.

Semula, Imas tetap tak mau divaksin. Namun karena ada kendala dalam melakukan aktivitas, dimana sertifikat vaksin menjadi sebuah syarat untuk bepergian jarak jauh, maka Imas pun akhirnya bersedia untuk disuntik vaksin.

Cerita di atas, merupakan sebuah gambaran, dimana informasi lengkap tentang keamanan soal vaksin begitu diperlukan bagi masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal jauh di pedalaman.

Kini, pemerintah begitu gencar memberikan pelayanan vaksin bagi warga di seluruh wilayah Indonesia dengan target vaksinasi yang telah ditentukan. Gencarnya pelayanan vaksin ini, tidak lepas dari perubahan sikap masyarakat yang sebelumnya ogah divaksin, kini justru minta giliran untuk divaksin.

Situasi tersebut, tentu saja cukup menggembirakan sebagai upaya untuk mencegah lonjakan COVID-19 yang kini sudah memakan korban meninggal mencapai angka 143.299 orang (dikutip dari covid.go.id per tanggal 27Oktober 2021).

Jumlah korban meninggal akibat COVID-19 itu, tentu saja sangat memprihatinkan. Bukan tidak mungkin jumlah tersebut akan bertambah manakala masyarakat abai akan protokol kesehatan yang telah ditentukan pemerintah.

Belum lagi ada ancaman terhadap dunia termasuk Indonesia akan kemungkinan munculnya Covid-19 gelombang ketiga, setelah beberapa pekan belakangan mulai melandai. Ya, gelombang ketiga. Begitu sebutannya.

Mendengar ancaman itu, masyarakat pun tampak berbondong-bondong membantu pemerintah dalam upaya penanganan COVID-19. Termasuk memberikan dukungan terhadap apapun kebijakan pemerintah terkait pencegahan virus mematikan ini.

Muncul pertanyaan di tengah masyarakat, apakah antusiasme dukungan masyarakat atas pelaksanaan vaksinasi ini memang murni kesadaran akan bahaya COVID-19? Atau hanya karena ingin mendapatkan sertifikat vaksin agar mudah melakukan aktivitas publik dan lancar dalam melakukan perjalanan menggunakan transportasi umum?

Pertanyaan inilah yang harus menjadi ‘konsern’ pemerintah untuk mencari tau alasan yang sebenarnya. Ini juga sekaligus menjadi ‘PR’ bagi pemerintah untuk terus berupaya meyakinkan masyarakat, agar penyebaran virus ini bisa ditekan.

Sebagaimana diketahui, pandemi COVID-19 telah menjadi kenormalan baru dalam kehidupan bermasyarakat di tanah air. Namun kenormalan baru ini kerap menjadi problem tersendiri saat masyarakat secara umum mengesampingkan bahaya pemaknaan sesungguhnya ‘hidup berdampingan’ dengan virus Covid-19.

Sehingga, hal ini berdampak pada peningkatan drastis angka kasus positif di akhir tahun 2020 dan awal 2021.

Kehadiran program vaksinasi nasional dalam rangka solusi penangulangan pandemi COVID-19, menjadi secercah harapan baru di awal tahun 2021.

Hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah dalam melindungi masyarakat yang selaras dengan amanat Pasal 28 H (ayat 1) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Pertanyaannya, sejauh mana konsistensi akan tindakan pengawasan melalui instrumen hukum yang ada? Sebab, masyarakat kerap lupa atau mengesampingkan peristiwa masa lalu, sebagaimana kita kerap mengesampingkan protokol kesehatan dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah biasa.

Sehingga, gotong-royong dalam konteks Indonesia, bukanlah suatu kesukarelaan dalam pemikiran modern, melainkan jati diri sesungguhnya bangsa Indonesia yang terbentuk melalui proses perjalanan sejarah yang panjang.

Persoalannya adalah, apakah kita menyadari pentingnya konsistensi pemaknaan gotong royong secara menyeluruh dalam penanggulangan pandemik Covid-19?

Harapan atas pengalaman hipotesis flu burung bahwa virus akan menghilang menjelang musim panas pun tidak pernah terjadi. Bahkan beberapa pimpinan negara membangun harapan akan adanya secercah sinar di ujung terowongan (light at the end of the tunnel).

Nampaknya, terowongan yang di maksud selama ini, kemungkinan adalah jalan menuju vaksin Covid-19.

Namun, di era globalisasi kini, negara bukanlah aktor tunggal dalam meyelesaikan persoalan dunia saat ini. Justru negara-negara menghentikan kegiatan globalisasi di saat kerjasama global, sangat dibutuhkan.

Selama satu tahun pertama pandemi, negara dituntut atau menuntut dirinya sendiri untuk mampu mengatasi pandemi kesehatan ini secara mandiri. Dampak dari situasi tersebut, ada yang memilih tindakan regulasi tegas sepihak dari negara dalam penerapan lockdown total, ada pula yang berharap pada pastisipasi masyarakat dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ala Indonesia.

Pada saat negara sedang sibuk menyiapkan berbagai regulasi, yang justru menarik adalah peran aktor non-negara yang bergerak cepat dalam semangat gotong-royong menyelamatkan mayarakat dari virus yang tidak ‘bergantung pada regulasi’ sebuah negara secara global.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) secara kolektif maupun para individu tokoh aktor non-negara dan tentu juga para tenaga kesehatan patut mendapatkan apresiasi tinggi, bahkan sesungguh dapat di kategorikan sebagai pahlawan terkait peran respons awal meghadapi pandemi ini.

Sejak awal hingga kini, mereka sesungguhnya tidak pernah menunggu regulasi pemerintah, melainkan menjiwai makna filosofis gotong-royong dalam menghadapi darurat kemanusiaan yang sedang melanda.

Masyarakat mempertaruhkan harta, martabat, jiwa dan raga demi menyelamatkan setiap insan manusia.

Dalam konteks Indonesia, salah satu contoh nyata yang menjadi sorotan adalah Tomy Winata melalui Yayasan Atha Graha Peduli (AGP). Sosok individu Tomy Winata ini unik karena anggapan umum bahwa AGP sesugguhnya adalah sarana menyaluraan apirasinya, berbeda dengan oganisasi non-profit lainnya yang bergerak secara kolektif.

Sebagaimana kita ketahui, pengusaha nasional yang kerap berkontribusi besar terhadap bencana alam dan kemanusiaan ini adalah aktor non-negara yang pertama di Indonesia dalam kontribusi penangulangan Covid-19 di Indonesia.

Bermula pada Febuari-Maret 2020, saat negara belum memiliki regulasi-regulasi menghadapi pandemik Covid-19, AGP menyalurkan bantuan kepada pemerintah dalam penyediaan tempat isolasi dan observasi bagi 188 WNI kru kapal pesiar World Dream di pulau Sebaru Kecil (Kepulauan Seribu), Artha Graha kemudiaan berpacu dalam waktu menyediakan pusat kesehatan darurat dengan menyediakan fasiltas pemeriksaan Covid-19 secara gratis bagi masyarakat kurang mampu. Bahkan membantu dalam penyediaan peralatan perlindungan bagi tenaga kesehatan.

Langkah nyata inipun berlanjut hingga kini dengan keterlibatan oleh lebih banyak organisasi lainnya. Contoh ini menarik sebagai kenyataan yang relavan bahwa roh gotong-royong dalam masyarakat Indonesia sesungguhnya tidak pernah luntur, dimana pemaknaan gotong-royong adalah dimana negara sebagai aktor dan aktor non-negara secara bersama-sama dan bukan secara sendiri-sendiri, memiliki tangungjawab moril dalam menjaga lingkungan sekitar, dalam konteks ini terhadap pandemik Covid-19.

Sebagai perbandingan di awal masa pandemik dengan negara-negara penduduk terbesar di dunia, langkah di China sama sekali berbeda dengan Indonesia dimana penangulangan Covid-19 di Wuhan dilakukan dengan penerapan lockdown penuh dan pembangunan fasilitas kesehatan secara rapid yang sepenuhnya dipimpin oleh negara.

Penerapan lockdown di China pun mimiliki lack of communication antara masyarakat dan pemerintah.

Sekalipun demikian, Wuhan berhasil menerapkan disiplin luar biasa hingga akhirnya mendeklarasikan temporary victory (kemenangan sementara) atas Covid-19.

Urgensi penerapan lockdown pun akhirnya memengaruhi pemerintahan negara-negara lain terkait metode penangulangan pandemik ini. Sejalan dengan China, India menerapkan lockdown total terbesar di dunia terhadap lebih dari 900 juta penduduk dari total 1,3 miliar penduduk negri Bollywood tersebut.

Uniknya, pemerintahaan New Delhi membangun komunikasi politik yang unik dengan masyarakat awam dan pedesaan melalui perumpamaan Ramayana.

Di Indonesia, kepedulian masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19, terbentuk dari sebuah budaya gotong royong yang sudah tumbuh sejak zaman nenek moyang. Hal itu, kemudian digelorakan kembali oleh Presiden Joko Widodo imbauan agar masyarakat Indonesia terus menggaungkan semangat kegotongroyongan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Kini, Indonesia masih dilanda Pandemi Covid-19. Di tengah pandemi ini, kreativitas anak bangsa terpanggil untuk menciptakan karya seni yang indah.

Dewa Budjana misalnya, salah satu anak bangsa yang menciptakan karya di tengah Pandemi Covid-19 melalui syair dan alunan musik lagu berjudul ‘Satu Jalan’. Dalam karya tersebut, tersirat pesan kepada seluruh elemen bangsa untuk kembali bersatu. “Satu Jalan untuk menghadapi Pandemi Covid-19, kembali saling mencinta dan kembali menjalin persaudaraan sesama anak bangsa”.

Marilah kita menyingkirkan sekat-sekat di antara kita, sekat perbedaan politik, perbedaan agama, perbedaan suku, ras dan golongan. Saatnya kita bersatu, bersama-sama bergotong royong menghadapi pandemi covid-19.

Mengapa harus bergotong-royong? Karena hingga saat ini setidaknya virus tersebut sudah menyebar di hampir seluruh negara di dunia ini. Menurut data real time dari The GISAID Global Initiative on Sharing All Influenza Data (by Johns Hopkins CSSE), setidaknya 69 negara terus berjuang melawan virus corona.

Sejarah Masuknya Virus Corona di Indonesia
Dari 69 negara tersebut, tercatat Indonesia menjadi salah satu negara mulai terserang. Berdasarkan catatan, virus ini masuk Indonesia pada Senin, 2 Maret 2020 yang diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Presiden menyatakan, virus corona Wuhan menjangkiti dua warga Indonesia, tepatnya di kota Depok, Jawa Barat.

Kedua orang tersebut merupakan seorang ibu (64) dan putrinya (31) yang sempat kotak dengan warga Jepang yang positif mengidap COVID-19. Warga Jepang tersebut baru terdeteksi COVID-19 di Malaysia, setelah meninggalkan Indonesia.

Nah, berikut kronologi lengkap mengenai kasus virus corona Wuhan di Indonesia, yang Halodoc himpun dari berbagai sumber media lokal dan nasional.

Kasus COVID-19 di Indonesia diawali dari sebuah pesta dansa di Klub Paloma & Amigos, Jakarta. Peserta acara tersebut bukan hanya warga negara Indonesia saja, tetapi juga multinasional, termasuk warga Jepang yang menetap di Malaysia. Berikut kronologi virus corona yang muncul di Depok, Jawa Barat, Indonesia.

Korban atau kasus pertama yang terpapar virus di Indonesia adalah berinisial NT (31). Kronologisnya, pada 14 Februari, NT mengikuti acara pesta dansa dengan peserta multinasional, termasuk Jepang. Ketika kembali ke domisilinya (Malaysia), warga negara Jepang tersebut positif mengidap COVID-19.

Selang dua hari setelah itu, tepatnya 16 Februari, NT mengalami batuk, sesak, dan demam selama kurun waktu 10 hari.

Sepuluh hari kemudian (26 Februari), NT berobat ke RS Mitra Depok. Di sana dokter mendiagnosis NT mengidap Bronkopneumonia, salah satu jenis pneumonia yang menyebabkan peradangan pada paru-paru. NT ditetapkan sebagai suspect virus corona Wuhan, dengan riwayat kontak kasus positif COVID-19.

Selanjutnya, pada 29 Februari, NT dirujuk ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, meski keadaanya sudah membaik (tidak demam, masih batuk).

1 Maret: Dokter mengambil spesimen berupa nasofaring, orofaring, serum, dan sputum. Sampel ini, kemudian dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes). Pengambilan Bronchoalveolar lavage (BAL) akan dikirim kemudian. Kasus yang dialami NT masuk dalam kategori pengawasan.

Kasus kedua menimpa MD (64). Pada 20 Februari, MD berkontak dengan anaknya NT yang diduga mengidap COVID-19.

Dua hari setelahnya (22 Februari), MD menunjukkan gejala infeksi virus corona. Ia juga berobat ke RS Mitra Depok dengan dengan diagnosis tifoid dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). MD diduga mengidap COVID-19. Lalu 29 Februari, beserta anaknya NT, mereka dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso.

Pada 1 Maret, prosedurnya sama dengan NT, dokter mengambil spesimen berupa nasofaring, orofaring, serum, dan sputum. Sampel ini kemudian dikirim ke Litbangkes. Kasus MD masuk dalam kategori pengawasan.

Pada Senin, 2 Maret 2020, Presiden Jokowi Widodo mengatakan kedua positif mengidap virus corona wuhan atau COVID-19.

Menurut beberapa media massa, kronologi virus corona Wuhan, tatalaksana kasus, pengobatan, pengambilan, hingga pengiriman spesimen di atas, diperoleh dari petugas Surveilans Kota Depok.

Dinkes Isolasi Rumah
Kasus pertama COVID-19 di Indonesia ini, didapat melalui penelusuran Kementerian Kesehatan RI.

“Orang Jepang ke Indonesia bertemu siapa, ditelusuri dan ketemu. Ternyata, orang yang terkena virus corona berhubungan dengan dua orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun,” kata Jokowi.

Penanganan kasus pertama virus corona Wuhan tak hanya berfokus pada kedua pengidapnya. Demi penularan lebih jauh, pemerintah juga mengisolasi rumah pengidap COVID-19 di kota Depok.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan, rumah warga Depok yang positif mengidap virus corona telah diisolasi,

“Sesuai prosedur, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat langsung melakukan pemantauan, juga melakukan isolasi rumah dan sebagainya,” jelasnya.

Apa Kabar NT dan MD?
Coba tebak, berapa banyaknya jumlah korban tewas akibat serangan virus korona Wuhan? Menurut data The GISAID, setidaknya 3.044 meninggal dunia akibat virus misterius ini. Lalu, bagaimana dengan warga Depok yang positif mengidap COVID-19?

Menurut Direktur RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril, baik NT maupun MD dalam keadaan baik. Kondis keduanya sadar penuh, tidak ada keluhan panas, tidak sesak napas, dan gejala batuknya pun juga berkurang.

Di samping itu, tanda vital dari keduanya juga dalam keadaan normal. Mulai dari tensi darah, suhu, pernapasan, dan nadi.

Bagaimana denganmu? Bila kamu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter.

Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit.

Bagaimana Respon Pemerintah?
COVID-19 bukanlah penyakit global pertama kali yang dihadapi Indonesia. Jauh sebelumnya, tepatnya pada 2003 pemerintah Indonesia juga pernah berhadapan dengan penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Lalu, bagaimana kesiapan pemerintah dalam melawan COVID-19?

Presiden Jokowi mengatakan, pemerintah Indonesia memiliki kesiapan dan perlengkapan yang memadai untuk menangani kasus virus corona pertama ini. Tak cuma itu, pemerintah juga berupaya untuk menekan penyebaran virus korona Wuhan, yang kini vaksinnya belum ditemui.

Menurut Jokowi, kini pemerintah telah menyiapkan lebih dari 100 rumah sakit dengan ruang isolasi untuk menangani COVID-19. Disamping itu, pemerintah Indonesia juga memiliki peralatan medis yang memadai sesuai standar internasional.

Selain tim medis, Jokowi juga membentuk tim lain untuk mengatasi virus corona Wuhan. Tim ini merupakan gabungan dari TNI-Polri serta sipil untuk melakukan penanganan di lapangan.

Singkat kata, pemerintah siap dan menjamin ketersedian anggaran mengatasi serangan virus corona. Mulai dari pengobatan, penanganan, dan pencegahannya agar tak menyebar. (*)

 

Penulis adalah wartawan media online Realitarakyat.com