Realitarakyat.com – Sesuai peringatan dini BMKG, akhir bulan Juli, Agustus, dan September 2024 adalah puncak musim kemarau. Situasi ini bepotensi mengakibatkan bencana kekeringan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara merata.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Noviar Rahmat menyampaikan, saat ini masih dalam fase kemarau basah. Artinya, dalam 10 hari pasti ada satu hari hujan.
Meski demikian, ada beberapa kecamatan di daerah Gunung Kidul yang mengalami kekeringan ekstrem. “Ada tiga kecamatan yakni di daerah Panggang, Rongkop, Saptosari, dan satu lagi di daerah pesisir pantai yang tidak mengalami hujan sama sekali,” kata Noviar, Rabu (17/7/2024).
Menurut dia, BPBD tidak bisa menangani sendiri krisis air bersih di Gunung Kidul. pihaknya telah bekerja sama dengan Dinas Sosial, PMI, TNI, Polri, dunia usaha, dan juga masyarakat turut membantu droping air.
Lebih lanjut, Noviar menjelaskan bahwa bencana kekeringan ini akan berdampak untuk sektor pertanian yang dikhawatirkan akan terjadi gagal panen. Kondisi Gunung Kidul secara geografis adalah daerah perbukitan yang di bawahnya terdiri dari tanah-tanah karang.
“Untuk digali sumur ke bawah itu harus sangat dalam, dan hampir tidak memungkinkan,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, BPBD DIY akan segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kekeringan yang diprediksikan akan terjadi di DIY pada bulan Juli dan Agustus mendatang.
BPBD DIY akan meminta bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan modifikasi cuaca dengan cara menaburkan garam di udara untuk memicu hujan. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah kekeringan yang lebih parah.***







