Daerah  

Karhutla di Hulu Sungai Selatan Menurun pada Tahun Ini

Karhutla
Proses pemadaman api. DOK/NET

Realitarakyat.com – BPBD Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Kusairi menyatakan kebakaran hutan dan lahan (Karhuutla) tahun 2024 menurun.

“Perhitungan BMKG, puncak kemarau di sini Bulan September sementara Oktober minggu kedua atau ketiga sudah diawal musim hujan,” ujarnya.

Informasi soal tujuh desa yang terdampak karhutla, menurutt Kusairi, adalah kalkulasi dari Bulan Agustus hingga September dan saat ini sudah padam.

“Yang terdampak pun hanya setengah hingga satu hektar dan dengan kecepatan tim tanggap darurat, setiap titik api dipadamkan sekitar 1 hingga 2 jam,” kata Kusairi melalui radio siaran, Jumat 13 September 2024.

Dari tujuh desa yang terdampak tersebar di empat kecamatan. Dijelaskannya, penyebab kebakaran lahan masih sekitar karena pembukaan lahan dengan cara membakar.

Kusairi mengatakan, sebagai langkah antisipasi karhutla, sejak Bulan Agustus telah mengaktifkan Posko Komando Siaga Karhutla di tingkat kabupaten, kecamatan hingga ke tingkat desa. “Jadi kami sudah punya satgas-satgas di lapangan dan yang terdekat itu satgas desa,” ujarnya.

Dijelaskannya, titik-titik kebakaran yang terjadi di tujuh desa itu adalah daerah langganan tiap tahun karena daerahnya kebanyakan daerah rawa yang rentan terjadinya titik api. Terlebih masyarakat di tujuh desa tersebut kebanyakkan berprofesi sebagai petani dan mencari ikan.

Ia mengatakan, BPBD bersama TNI,Polri, SKPD dan dinas-dinas terkait juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghindari segala aktifitas yang memicu terjadinya kebakaran. “Karena masyarakat di daerah kami masyarakat tradisional yang masih melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar,” ucapnya.

Peran masyarakat ikut membantu memadamkan api selama ini cukup baik. Kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar perlahan sudah mulai berkurang, katanya.

Perlu ada pengembangan inovasi-inovasi oleh dinas terkait agar masyarakat tidak lagi membakar untuk membuka lahan. “Misalnya ada teknologi drone dan alat gulma agar petani-petani dapat membuka lahan dengan tidak membakar,” ujarnya.

Lahan-lahan tidur bisa segera dimanfaatkan dan harus ada pemiliknya. Ini agar lahan-lahan tersebut tidak berpotensi terbakar.***