Realitarakyat.com – Cina dapat melancarkan perang ekonomi dan siber terhadap Taiwan tanpa menggunakan kekuatan militer langsung.
Laporan ini dirilis oleh Foundation for Defense of Democracies (FDD), sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Washington.
FDD bekerja sama dengan ahli perbankan dan keuangan di Taiwan mensimulasikan berbagai taktik non-militer yang mungkin digunakan oleh Cina, seperti kampanye disinformasi dan serangan siber terhadap infrastruktur.
Melansir dari AP News, Senin, 7 Oktober 2024, simulasi ini bertujuan mengisi kekosongan analisis terkait ancaman non-militer terhadap Taiwan. Simulasi ini dianggap bisa menjadi langkah efektif tanpa perlu melibatkan invasi militer langsung.
Meski Cina telah berjanji akan mengambil alih Taiwan, Presiden Xi Jinping tetap menekankan upaya untuk melakukannya secara damai. Sejak 1949, Taiwan telah memisahkan diri dari daratan Tiongkok setelah perang saudara.
Namun ketegangan terus meningkat sejak 2016 ketika Beijing mulai meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap pulau tersebut. Amerika Serikat berpendapat bahwa menjaga perdamaian di Selat Taiwan adalah kepentingan nasionalnya.
Hubungan ekonomi antara Taiwan dan Cina semakin erat, dengan sekitar 1 juta warga Taiwan tinggal dan bekerja di daratan Cina. Ini membuat Taiwan rentan terhadap tekanan ekonomi, seperti boikot, blokade, dan pembatasan perdagangan.
Dalam simulasi, para ahli memperkirakan Cina dapat melancarkan perang psikologis, melarang impor produk Taiwan, dan menaikkan tarif. Selain itu Cina juga dapat melakukan penjualan saham secara agresif, membekukan transfer bank, dan memotong kabel serat optik.
Cina juga bisa menargetkan impor energi Taiwan, yang bisa berdampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan sosial pulau tersebut. Laporan tersebut merekomendasikan agar Taiwan mendiversifikasi impor energinya dan merelokasi bisnis dari daratan Cina.
Taiwan juga diminta mengembangkan pasar baru, serta membangun lebih banyak aliansi dan kemitraan internasional. Akademi Perbankan dan Keuangan Taiwan menekankan pentingnya memperkuat ketahanan finansial.
Hal tersebut dikarenakan Cina dapat mengguncang sistem keuangan Taiwan untuk memicu kerusuhan sosial sebagai pendahulu invasi. Russell Hsiao, direktur Global Taiwan Institute, mencatat bahwa Tiongkok telah meningkatkan langkah-langkah non-militer terhadap Taiwan.
Langkah-langkah tersebut diprediksi akan meningkat dalam beberapa bulan atau tahun mendatang. Hsiao menekankan pentingnya kerjasama antara Taiwan, Amerika Serikat, dan sekutu lainnya untuk memperkuat ketahanan kolektif terhadap upaya Cina.***







