Opini Oleh: Erwin Syahputra Siregar
Wartawan Senior
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum bersejarah yang menegaskan tekad generasi muda untuk bersatu demi tanah air. Tahun ini, peringatan ke-97 mengusung tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu,” sebuah seruan yang relevan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Di balik semangat tersebut, ada satu elemen yang tak kalah penting dalam menggerakkan kesadaran kolektif: pers.
Pers bukan sekadar penyampai informasi. Ia adalah penjaga nalar publik, pengarah opini, dan penyulut semangat perubahan. Dalam konteks Sumpah Pemuda, peran pers sangat strategis untuk membangun narasi kebangsaan yang inklusif, progresif, dan berakar pada semangat persatuan.
Menyuarakan Aspirasi Pemuda
Di era digital, suara pemuda sering kali tenggelam di antara hiruk-pikuk informasi yang tak terkurasi. Di sinilah pers hadir sebagai kanal yang mampu mengangkat gagasan, keresahan, dan inovasi anak muda ke ruang publik. Media yang berpihak pada kemajuan generasi muda akan menjadi katalisator gerakan sosial yang berdampak nyata.
Pers harus berani memberi ruang bagi pemuda dari berbagai latar belakang—baik yang bergerak di bidang sosial, lingkungan, teknologi, maupun budaya. Dengan begitu, semangat “Pemuda Pemudi Bergerak” tidak hanya menjadi slogan, tetapi gerakan yang hidup dan berkelanjutan.
Menjaga Semangat Persatuan
Di tengah polarisasi dan fragmentasi sosial yang kerap muncul, pers memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga semangat kebersamaan. Narasi yang memecah belah harus dilawan dengan jurnalisme yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman.
Sumpah Pemuda adalah simbol bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan. Pers harus menjadi penjaga nilai ini, dengan menyajikan berita yang membangun empati, mengedukasi publik, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa.
Mendorong Literasi dan Kritisme
Pers juga berperan penting dalam membentuk generasi muda yang literat dan kritis. Di tengah banjir informasi dan hoaks, media yang kredibel menjadi benteng terakhir untuk menjaga kualitas demokrasi dan kebebasan berpendapat. Pemuda yang terpapar informasi berkualitas akan tumbuh menjadi warga negara yang aktif, cerdas, dan berintegritas.
Penutup
Memperingati Hari Sumpah Pemuda bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menata masa depan. Dalam perjalanan menuju Indonesia yang bersatu dan maju, pers harus menjadi mitra strategis pemuda. Melalui berita, opini, dan narasi yang membangun, pers dapat menjadi penggerak utama dalam mewujudkan cita-cita Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa—Indonesia.***







